Kata
orang aku ini cahkeb alias cah kebon. Walau lahirnya di rumah sakit, tetap saja
rumah sakitnya milik perkebunan. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Makanya
jangan heran jika mendengar aku dipanggil kakak oleh setiap orang di Afdeling
dimana aku dan keluargaku tinggal.
Setiap
perkebunan punya beberapa Afdeling dan aku
tinggal di Afdeling IV Pondok Baru perkebunan Gunung Para. Tinggal di perkebunan
sudah tentu kami tinggal di rumah dinas milik perkebunan. Beruntungnya kami, rumah
kami memiliki kamar mandi. Tidak seperti beberapa rumah dinas yang lain, kamar
mandinya harus membuat sendiri. Kalau aku bilang sih kamar mandi mereka bukan
kamar mandi karena terdiri dari kayu yang dipancang ke tanah kemudian ada yang
memakai terpal untuk dindingnya dan ada juga yang memakai karung plastik. Miris
ya… yah begitulah hidup diperkebunan.
Cerita
tentang rumah dinas perkebunan kami masih banyak. (Jangan bosan bacanya ya…). Rumah
kami permanen. Tetapi aku tidak habis pikir dengan bentuk rumah kami. Kami
selalu bertanya-tanya tentang siapa arsitek rumah itu. Jendela di belakang
kalau yang sebelah kanannya dibuka akan menutupi pintu dapur di sebelahnya.
Bisa dibayangkan kan? Karena itulah jendela sebelah kanan di belakang tidak
pernah kami buka. Selain itu, pintu kamar mandinya di luar. Jadi jika kita
ingin ke kamar mandi harus keluar dulu dan itu adanya di ujung rumah. Sudah
terbayangkan? Begitulah rumah kami. Pertanyaan kami selalu saja, kenapa tidak
di dalam saja pintu kamar mandi padahal dinding kamar mandi itu luas tidak ada
penghalang apa pun untuk membuat pintu di sana.
“Itu
dibuat agar kita turut menjaga keamanan perkebunan ini. Dengan adanya pintu di luar
jadi jika kita ingin buang air pada malam hari kan kita bisa memantau apa yang terjadi
di luar,” itulah jawaban diplomatis papa.
Jangan
kira bentuk semua rumah sama. Tidak. Rumah itu bentuknya berbeda-beda. Seperti
yang kubilang tadi rumah dinas itu ada yang tidak punya kamar mandi tetapi di dalamnya
ada seperti tungku untuk memasak.
“Mereka
tidak pernah memakainya karena akan membuat hitam rumah,” ini kata mamaku yang
sering pergi ke rumah tetangga jika mereka ada yang sakit.
Tapi
ada yang bagusnya dari rumah dinas itu. Masing-masing rumah di sampingnya
memiliki halaman untuk bercocok tanam.
Disini
aku akan menceritakan suka dan tidak sukanya tinggal di perkebunan. Tapi ini
terjadinya saat aku SD karena saat aku disekolah lanjutan akan kuceritakan
kelak. Aku punya beberapa cerita. Yang akan terus kuingat sampai aku tua.
Terutama tentang aku dan apa yang terjadi di Afdeling. Tempat dimana sebagian
umurku habis di sana. Sebuah Afdeling yang cukup jauh dari jalan besar atau jalan
lintas. Jika naik sepeda jaraknya kira-kira satu jam. Naik kereta kurang lebih setengah jam. Naik motor kira-kira satu jam. Kenapa naik motor sama dengan naik sepeda?
Jawabannya adalah jika naik sepeda kita bisa menggunakan jalan setapak melewati
pohon-pohon karet sedangkan naik motor kita harus dari jalan perkebunan yang
buruknya kelewatan. Berbatu dan tidak mulus. Jadi supirnya harus pandai-pandai
memilih jalan yang harus dilalui.
Aku
juga belum bercerita bahwa rumahku itu bisa ditemukan kalau dari siantar akan
terlihat pos polisi di sebelah kanan menghadap sebuah jalan perkebunan. Jika
dari tebing tinggi berarti pos polisinya sebelah kiri sementara jalan menuju
rumahku disebelah kanan. Jalan yang sampai kini masih seperti saat aku SD.
Mungkin
ini sedikit pembukaan ceritaku tentang suka dan tidak sukanya aku tinggal di perkebunan.
Tempat dimana aku banyak memiliki kenangan. Sampai sekarang pun kenangan itu
tak bisa lekang dari ingatanku. Tak pernah aku menyesal tinggal di sana karena
aku selalu berprinsip, walaupun anak kampung yang penting tidak kampungan. Aku
dan adik-adikku tetap berteman dengan anak-anak di afdeling tetapi kami tidak
selalu mengikuti gaya mereka. Sampai sekarang aku masih ingat temanku satu
kelas ketika di SD, jangankan punya tali pinggang celana sekolahnya malah harus
dipasang karet gelang atau tali plastik agar erat. Belum lagi sepatu yang mereka
pakai rata-rata memakai sepatu toyo yang bahannya dari plastik. Kalau tas masih
ada yang membawa plastik kresek ke sekolah karena itu penampilanku dan adikku
yang sedikit lebih agak menonjol dibanding mereka. Hanya saja kami sudah
diajarkan untuk tidak sombong agar bisa berbaur dengan mereka. Bagiku pun tak
ada kata sombong justru mereka senang berteman.
Ada
satu lagi yang aku ingat saat aku kecil. Mereka jarang sekali pergi ke kota.
Seperti ke Tebing Tinggi. Bagi mereka itu sebuah kemewahan makanya kehidupan
mereka begitu kampungan. Mereka seperti katak dalam tempurung. Untuk kebutuhan
sehari-hari mereka memilih membeli di kedai-kedai kecil milik tetangga depan
rumahku. Kalau untuk pakaian mereka akan menunggu bonusan yang ini nanti aku ceritakan lebih lanjut. Dan kalau untuk
perlengkapan rumah tangga mereka akan dengan senang hati kredit dengan
sales-sales toko yang sering datang. Aku bilang kehidupan mereka sangat suram.
Walaupun mereka tetap saja tertawa gembira. bagiku mereka benar-benar suram.
Soal
penerangan di Afdeling kami… ah sebaiknya nanti saja aku ceritakan. Miris. Tak
bisa dikatakan dengan kata-kata. Aku teringat bagaimana air mata mama jatuh
berurai saat kami baru pindah ke Afdeling ini. Sebelumnya kami tinggal di rumah
dinas juga hanya saja masih lebih bagus. Rumah dinas itu adanya di komplek
perumahan perkebunan bagi pegawai yang bekerja di kantor direksi. Namun entah
karena apa aku tak tahu, mamaku dipindahkan ke Afdeling dimana kami tinggal
sekarang.
“Ini
masih lebih baik, karena tidak terlalu jauh,” kata papa menghibur mama.
Memang
kalau dibandingkan dengan teman mama yang lain mama termasuk yang paling dekat
pindahnya. Sejak pindah, kami tidak punya pembantu lagi. Mama harus mengerjakan
semuanya dibantu oleh papa dan kami. Sungguh berat buat mama. Belum lagi dari
keluarga mama yang sangat menyayangkan mama harus pindah ke tempat yang
terpencil. Tapi dengan tekat yang kuat mama menguatkan hati dan bertahan.
Apalagi orang-orang perkebunan itu membutuhkan mama.
Kalau
soal beras, kami biasa makan beras catu dari bulog. Dibilang beras catu karena
beras catuan. Setiap hari kamis minggu ke dua akan ada berasan di pajak depan rumahku.
Kadang kami dapat beras thailand lain hari dapat beras vietnam. Kadang dapat
beras yang putih bersih lain kali dapatnya beras jelek dan bau. Tapi
bagaimanapun aku dan adik-adikku tidak pernah mengeluh. Soal ini nanti juga
akan kuceritakan.
“Yang
penting kita bersyukur, masih banyak orang yang tidak bisa makan nasi,” petuah
papa suatu hari. Kemudian papa akan menceritakan kepada kami kesusahan papa
dimasa muda papa untuk mencari sesuap nasi.
Cerita suka duka tinggal di rumah dinas mama dan papaku masih banyak lagi. Ok... to be continued
ya…
Note :
- Kereta : Sepeda Motor
- Motor : Mobil
- Bonusan : Saat perkebunan memberikan bonus untuk karyawan
- Berasan : Pembagian beras
- Pajak : Tempat pertemuan, jika bonusan biasanya ada orang yang datang untuk berjualan di sana dan jika ada layar tancap letaknya juga di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar