Pernah
lihat foto di atas? Enggak ya? Ya iyalah ini kan foto anakku. (pertanyaan dan
pernyataan lebay). Maksudku bertanya, pernah lihat suasana di foto enggak? Dengan
daun kering yang seperti hamparan permadani dengan batang pohon yang disayat. Yup,
benar. Ini suasana di perkebunan karet. Tempat aku kecil bermain-main. Bermain rumah-rumahan,
kejar-kejaran atau main rambung. Tau rambung? enggak ya? (Halah dasar emak-emak
rempong kayak yang tau segalanya aja) Rambung adalah sebutan untuk buah karet. Aku
kecil dan kawan-kawan suka bermain laga rambung. Dua rambung akan disusun dan
kemudian dipecahkan dengan tangan. Rambung yang pecah berarti kalah. Itulah suasana
yang kudapatkan di perkebunan Gunung Para. Sebuah perkebunan milik PTPN3.
Di
bawah rimbunnya pohon rambung itu kami juga bisa menambah uang saku. Caranya? Dengan
mencari rambung dan menjualnya kepada pengepul. Begitu juga biji
kacang-kacangan yang ada disekitar pohon rambung itu, bisa kami jadikan uang. Selain
itu, mangkuk-mangkuk kaleng untuk penampung karet yang telah rusak bisa juga
kami tukarkan dengan berbagai mainan yang kami suka. Kok ya miskin bener ya… ha…ha…ha…
kayaknya sih seperti kerjaan orang yang miskin. Eits… jangan salah. Bagiku masa
kecil seperti itu indah karena aku pernah bersama anak-anak yang kaya
sebelumnya ketika aku tinggal di sebuah kompleks perumahan di gunung Pamela namanya.
Masih milik PTPN3 juga. Di sana aku tidak menemukan anak-anak dengan celana diikat
karet gelang. Aku menemukan anak-anak dengan kebanggaan hidup mewah. Terkadang kami
saling pamer jika memiliki sesuatu yang baru. Iri-irian soal baju baru atau sepatu baru itu
sudah lumrah buat kami. Tetapi di gunung para terutama dimana aku tinggal yaitu
pondok baru, aku menemukan suasana keprihatinan ketika aku baru pindah. Banyak hal
yang membuat aku bahkan mama dan papaku terkejut. Apa yang membuat kami
terkejut? To be continued ya. Salam Rempong…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar