Sudah lama aku tidak menulis di blogku ini, alasannya enggak sempat, klise ya. Tapi begitulah tugas rumah menanti dan tugas kuliah menungguku dengan manis untuk diselesaikan. Daripada blog ini tidak terisi, hari ini aku akan mengisinya dengan cerpenku yang ditolak! ha... ha... ha... ditolak kok bangga! tapi begitulah ditolak itu bukan berarti jelek tetapi tolong diperbaiki lagi atau menulislah lagi biar tambah keren tulisannya... halah! sebenarnya kalimat itu untuk menghiburku biar enggak patah semangat. Yah, menulis itu untuk orang-orang yang semangat. Kalau belum-belum sudah letoi karena ditolak ya mending enggak usah nulis ya kan... setuju kan ya... (wajah melas) sudah ah panjang bener pembukaannya, ini nih cerpenku yang ditolak :
EPISODE AKU
Karya : Oli Novedi Santi
“Besok
kepada adik-adik semua diharuskan membawa sepasang nyamuk yang diikat dengan
tali!” lantang suara perintah di depan membuat kami yang mendengar kaget. Bukan
suaranya yang membuat kaget tapi perintah tidak masuk akal itu yang membuat
kaget. Apalagi aku. Bingung, juga merasa dibodohi. Ini kegiatan apa sih,
pikirku.
Hari
ini hari ke tiga aku dan teman-teman mengikuti masa orientasi di kampus. Aku
anak baru. Baru di kampus dan baru di kota Padang. Jadi semuanya serba baru.
Baru juga merasa bodoh. Aku tidak bisa mengerti dengan kegiatan orientasi ini.
Sepertinya tidak ada yang bermanfaat. Mungkin ada sih, tapi sedikit. Lebih
banyak acara ngawurnya. Kemarin kami
disuruh makan satu permen untuk lima puluh orang, campur cewek dan cowok.
Bayangkan saja kalau ada yang terkena penyakit menular berbahaya, apa yang akan
terjadi? Mungkin panitia menganggap itu solidaritas, persahabatan. Tapi kan, enggak gitu juga kali… kalau soal penyakit
kan yang menderita masing-masing. Mengobatinya juga pakai uang masing-masing.
Aku betul-betul jijik. Maunya sih nantang
tapi aku di sini kan baru, juga tidak mengerti bagaimana keadaan di sini. Nanti salah-salah bisa kacau.
Di
sebelahku sekarang duduk temanku satu kos. Anak Pekanbaru. Namanya Messi. Messi
juga sama denganku. Males banget mengikuti acara ini.
“Mau
gimana lagi, kita ikuti ajalah,” itu yang keluar dari mulutnya kemarin saat aku
mengeluhkan acara orientasi yang kami jalani.
Hampir
magrib ketika aku pulang ke kos. Penat. Lapar. Capek. Ah… pokoknya menderita sekali.
Yah… sudahlah istirahat dulu di kamar. Hidup jauh dari orang tua baru kurasakan
sekarang. Tapi aku tekadkan saja. Demi cita-cita. Apalagi aku sendiri yang
meminta kuliah di kota Padang. Padahal di kota Medan banyak juga universitas
yang bagus. Aku hanya ingin mencari suasana baru. Lagi pula di sini katanya
tempat belajar agama. Jadi aku memilih kuliah di kota Padang.
Malam
ini aku dan Messi membahas bagaimana mendapatkan sepasang nyamuk untuk besok.
Sepasang saudara-saudara. Sekali lagi sepasang. Bagaimana mencari sepasang?
Akhirnya dengan raket nyamuk kami membasmi nyamuk yang ada di kamar Messi. Kami
ambil dua nyamuk dan diikat dengan benang. Susahnya tidak perlu di tanya. Soal sepasang
atau tidak kami sudah tidak peduli lagi.
“Sudah
Vi, enggak usah dipikirin yang penting kita dapat nyamuknya,” kata Messi.
“Hatiku
merasa enggak enak aja. Dengan perintah bodoh ini. Apa mereka enggak punya ide
yang lebih mendidik lagi untuk orientasi mahasiswa?”
“Jangan
terlalu dibawa ke perasaan yang ada nanti kamu malah sakit hati trus bunuh
diri.”
“Jiaah,
bunuh diri. Yang ada aku mau menunjukkan sama senior-senior itu kalau aku bisa
lebih hebat dari mereka.”
“Betul,
kalau mau protes bisa kita lakukan kelak saat kuliah. Lagi pula kita tidak
pernah tahu kelak kita jadi apa setelah selesai kuliah. Siapa tahu ternyata
besok kamu jadi bos senior-senior kita itu.”
“Amin…
mudah-mudahan doa kamu terkabul.”
“Tapi
jangan balas dendam ya, enggak baik.” Messi tertawa dengan kata-katanya
sendiri. Aku pun ikut tertawa.
Pagi
harinya jam enam aku dan Messi sudah sampai di kampus. Tepatnya jam enam pagi
kurang lima menit. Kemarin jam enam lewat dua menit kami sampai, mendapat
hukuman dari panitia karena terlambat. Ternyata di depan kampus sudah banyak
mahasiswa baru yang hadir. Dan anehnya semuanya sedang lompat kodok. Dihukum!
“Ayo…
yang baru datang bergabung. Lompat kodok sepuluh kali,” terdengar perintah
salah satu panitia orientasi. Aku jadi bingung, salah kami apa?
“Bang,
kenapa kami dihukum?” akhirnya salah satu dari mahasiswa baru memberanikan diri
bertanya.
“Kenapa
tanya?” jawab salah satu panitia.
“Yah,
kan harus jelas sebab kami dihukum.” Jawab mahasiswa baru itu. Sepertinya anak
dari jurusan manajemen karena atributnya sama denganku.
“Kalian
tidak mematuhi jam.”
“Kami
kan datangnya jam enam kurang, kenapa masih dihukum?” kataku akhirnya
memberanikan diri.
“Apa
pasal yang sudah kami katakan pada pertemuan pertama kita. Ucapkan sama-sama!”
Lantang sekali suara panitia.
Yah…
itu lagi deh. Dengan malas aku mengucapkannya bersama teman-teman.
“Pasal
satu, senior tidak pernah salah. Pasal dua, jika senior salah kembali ke pasal
satu.”
“Nah,
sudah tahu aturannya kan?” panitia senyum-senyum melihat kami. Ada juga yang
tertawa. Hatiku sebal bin kesal. Memangnya ada aturan yang seperti itu?
Akal-akalan mereka saja.
“Hari
ini, adalah hari terakhir kita bersama dalam acara orientasi. Siang nanti
kalian akan mendapatkan buku suci yang sangat penting untuk bisa menjalankan
perkuliahan di kampus ini. Jadi tetaplah semangat.” Walau begitu semangatnya
senior di depanku bicara tak sedikit pun membuatku semangat. Aku jengah.
Sampai
siang hari aku masih kesal. Sudah susah-susah mencari nyamuk ternyata tidak ada
pembicaraan mengenai nyamuk. Yang ada malah sebagian senior laki-laki mencari
mangsa alias mahasiswi yang cantik-cantik untuk mengambil setoran. Bukan uang
sih setorannya. Tapi sama saja malak.
Lha, yang diminta coklat toblerone atau silverqueen. Bukan cuma satu tapi bisa
dua atau tiga. Menyebalkan!
“Siang
ini kami akan membagikan buku suci. Semuanya harus mengelilingi ruangan ini
dengan merangkak.”
What?
Merangkak? Apalagi ini? untuk mendapatkan Al Quran, kitab yang benar-benar suci
saja tidak perlu merangkak. Sesuci apa sih bukunya? Aku hanya bisa bertanya
dalam hati. Yang lebih anehnya mengambilnya harus dari bawah kaki seorang senior
perempuan yang duduk di salah satu kursi kemudian kakinya berada di kursi di
depannya. Ini apa sih? Tapi lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Aku lihat wajah
seniorku itu. Jijik. Asli. Tega-teganya dia menghinakan kami dengan seperti
itu.
“Tunduk!”
sebuah tangan mampir di kepalaku. Membuatku kaget. Tapi tak berdaya. Namun itu
membuatku mengingat wajah senior perempuan itu. Masih dengan perasaan jijik.
Hari
sudah sore ketika semua kami di bariskan di depan kampus untuk penutupan acara.
“Semua
yang kami lakukan demi kepentingan adik-adik semua. Jangan ada dendam diantara
kita. Mari kita bernyanyi,” Suara riuh langsung terdengar. Mereka bergoyang dan
bernyanyi bersama. Aku memilih menghindar. Perutku mual. Apalagi setelah
membaca buku yang katanya suci. Buku yang berisi peraturan-peraturan
perkuliahan. Hah! Karena buku tipis ini aku harus menghinakan diriku. Mungkin
sebagian orang bilang itu hanya untuk bersenang-senang. Tapi tidak bagiku. Itu
menyangkut harkat dan martabat manusia. Tidak bisa dianggap enteng. Ah… yang
penting acara ini sudah selesai. Minggu depan mulai awal perkuliahan.
‘***
“Kak,
ini CV karyawan barunya,” Lili salah satu stafku memberikan beberapa map.
Aku
membuka satu persatu dan membacanya. Sebuah perusahaan jasa yang baru tiga
tahun ini aku dirikan bersama suamiku memang membutuhkan karyawan baru.
Tiba-tiba tanganku berhenti pada salah satu CV. Aku melihat fotonya dengan
seksama. Wajah itu tidak akan pernah bisa kulupakan. Wajah yang membuatku ingin
muntah. Ah… kenapa perasaan ini masih ada padahal itu beberapa tahun lalu. Yah,
itu wajah seniorku dulu. Senior yang kakinya harus aku lewati untuk mengambil
buku suci ketika masa orientasi.
Aku
jadi ingat doa Messi. Memang benar bahwa kita tidak pernah tahu kehidupan kita
kelak. Jadi jangan sampai merendahkan orang lain walau itu sebuah gurauan dan jangan
ketika punya kekuasaan, merasa ‘di atas’ terus semena-mena pada orang lain.
Semua kita punya batas. Teringat nasihat ayahku ketika aku akan pergi merantau
dulu.
“Jika
kita berbuat baik kepada orang lain, mungkin tidak segera kita dapatkan
balasannya tetapi yakinlah suatu hari akan kita rasakan manfaatnya. Kalaupun
bukan untuk kita mungkin untuk anak atau cucu-cucu kita,” nasehat itulah yang
selalu aku ingat.
“Kak,
bagaimana?” suara Lili mengagetkanku.
Apakah
seniorku ini aku singkirkan atau… ah aku harus beri kesempatan untuknya. Menurutku
setiap orang butuh kesempatan untuk bisa melangkah. Seperti kata Messi, aku
tidak boleh dendam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar