PARENT WITH NO PROPERTY
Beberapa bulan lalu aku ke Gramedia dan menemukan buku yang menarik. Kenapa menarik? yang pertama aku liat karena covernya berwarna hijau dan merah, itu warna yang sangat indah menurutku. Kedua, judulnya parent with no property, orang tua yang tidak punya properti (ini cara aku mentransletnya ya...). Ketiga, penulisnya bernama Han Hee Seok, dari namanya sudah jelas kalau penulis adalah orang Korea. Keempat, ketika aku membuka buku itu ( aku lupa halaman berapa) cerita di dalamnya sangat menarik cara penulis bercerita begitu saja mengalir. Tidak seperti menggurui. Tetapi menceritakan bagaimana penulis sebagai seorang ayah mendidik anak-anaknya terutama anak pertamanya.
Aku termasuk yang sering suka nonton drama Korea, dalam drama sering aku lihat bagaimana mereka bercerita tentang kehidupan masyarakat menengah kebawah yang harus berusaha keras untuk bisa menjadi bagian dari chaebol. Ada yang dengan cara culas dan ada yang dengan cara baik-baik. dari sekian banyak drama yang menarik aku sangat tertarik dengan drama yang menceritakan bagaimana anak-anak sekolah dikorea harus berjuang untuk menjadi juara.
Drama seperti Queen class room (aduh ini kalau enggak salah judulnya ya...) yang menceritakan bagaimana seorang guru mengajarkan murid-muridnya dengan tegas. Aku lebih suka mengatakan kalau guru itu tegas bukan keras. kalau guru yang keras dia akan keras dalam keadaan baik ataupun buruk tetapi guru yang tegas itu mengajarkan sesuatu dengan tegas ketika dia harus tegas tetapi dilain waktu dia menunjukkan kasih sayangnya walaupun secara tersembunyi. Aku suka kata-kata guru didrama ini "jika kelak kamu bahagia buatlah temanmu juga bahagia" (kira-kira begitulah kata-katanya), kata-kata ini mengingatkan aku yang tidak begitu peduli teman sekolahku dulu bahagia atau tidak. Drama ini juga menceritakan bagaimana sang guru ingin mengatakan pada muridnya bahwa kehidupan nyata itu sama seperti medan perang jadi sedri kecil harus punya bekal untuk berjuang di medan perang yang saling sikut dan saling tendang.
Dari drama ini dan beberapa drama tentang perjuangan kehidupan masyarakat Korea bahwa negara Korea Selatan itu sangat kejam. Kenapa aku bilang kejam? karena sepertinya negara itu bilang "pliss, klo miskin jangan tinggal dimari" (gitu kali ya kata-katanya). Tetapi kekejaman itu menurutku lagi, membuat masyarakatnya berjuang untuk menjadi yang terbaik. .
Aku juga pernah membaca tentang tingkat kebahagiaan anak di dunia, dan ternyata tingkat kebahagiaan anak Korea Selatan sangat rendah. aku berkesimpulan ini karena anak-anak Korea Selatan sedari kecil sudah harus berjuang dengan pendidikannya. Pagi pergi ke sekolah dan setelahnya pergi ke Akademi (tempat les tambahan). Sebagaimana yang digambarkan didarama-daramanya bahwa para ibu di Korea Selatan akan berjuang semampunya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Nah, biasanya yang aku lihat di drama kan para ibu yang kesana kemari untuk pendidikan anak-anaknya tetapi dibuku parent with no property bukan ibunya tetapi ayah. Ya... sang ayah yang pontang panting memikirkan dan berusaha untuk pendidikan anak-anaknya. Bertanya kesana kemari tentang tips belajar. Pergi keseminar masuk ke universitas, padahal waktu itu anaknya belum samapai SMA (Kalau aku enggak salah). Tetapi semua perjuangan sang ayah bisa mendapatkan hasil ketika anak pertamanya, Geol menjadi juara satu dikelas dan satu sekolah. Aku yang jadi pembaca saja deg-degan sewaktu membaca saat-saat mereka melihat hasil ujian Geol. Ah... hatiku lega saat membaca bahwa apa yang diidamkan orang tua itu terwujud dengan tertulisnya juara satu untuk Geol, anak pertamanya.
Buku ini juga menceritakan bagaimana keterbatasan keluarga ini yang bukan orang kaya untuk terus berusaha bagaimana anak-anaknya bisa sekolah tanpa ikut akademi. Sebenarnya motivasi sang ayah berjuang, agar anak-anaknya tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya dan kenapa dia sangat berusaha untuk anak pertamanya menurutku karena ketika anak pertama berhasil itu akan menjadi contoh bagi adik-adiknya untuk berjuang mendapatkan apa yang didapat kakaknya. Walaupun harus pinjam uang sana sini untuk pendidikan anak-anaknya tetapi kemudian pertolongan datang dari mana saja dengan melihat hasil yang dicapai anak-anak mereka. Memang kalau kita mau berjuang pertolongan itu pasti ada. Sampai diakhir buku diceritakan bahwa Geol bisa mendapatkan beasiswa dari perusahaan besar untuk kuliahnya. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Benar-benar Super!!
Saya bukan bermaksud mempromokan buku ini tapi saya merekomendasikan untuk membaca buku ini. Ceritanya sangat menarik dan patut disimak. Tetapi sekedar mengingatkan, bahwa mendidik anak jangan dengan cara try and error karena anak bukan barang yang bisa diganti kalau salah asuh. Tetapi kita patut mempelajari bagaimana mendidik anak hanya sebagai bahan untuk referensi bukan sebagai bahan untuk dilaksanakan saat mendidik anak karena setiap anak memiliki karakter masing-masing. Anak kembar saja berbeda karakternya apalagi kalau tidak. Jadi cara mendidik anak pertama dan kedua bisa saja berbeda. Jangan sampai membuat anak stres karena keinginan orang tua yang terlalu memaksa. Ini saja yang bisa aku tulis, semoga bisa bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar