Kamis, 01 Desember 2016

212 SUPER DAMAI


212 SUPER DAMAI
Dengan tulisan ini aku ingin menegaskan dimana kakiku tegak. Aku ingin menuliskan apa yang aku pikirkan tentang negaraku ini karena kediamanku berarti aku tidak mencintai negaraku maka dari itu tulisan ini aku harap dapat menenangkan hatiku yang galau. Agar tulisan ini tidak melebar kemana-mana aku memberi poin permasalahan yang akan dibahas :
  1. Penyebab terjadinya peristiwa 4 November 2016 dan 2 Desember 2016 yang akan dilaksanakan.
  2.  Pemimpin yang diinginkan rakyat.
Jadi dengan kedua poin permasalahan diatas aku akan berbicara lewat tulisan ini karena dua hal ini yang menurutku sangat mengganjal dan patut diperbincangkan.
1.      Apa yang terjadi saat ini menurutku adalah sebuah bom waktu yang memang siap meledak. Hal ini sudah aku perkirakan saat seorang pemimpin yang dengan arogannya memaki dan marah-marah. Aku berkata dalam hati “sampai kapan dia bisa seperti itu? Dan sampai kapan orang yang mendengarnya tahan dengan itu?” dibawah ini akan aku jelaskan poin-poin pendapatku.
a.       Bagiku mulut yang selalu marah-marah dan mengeluarkan makian itu tidak baik. Apalagi aku diajarkan orang tua dari kecil tidak boleh berkata kotor dan memaki. Aku pun tidak pernah mendengar hal yang tidak baik itu keluar dari mulut kedua orang tuaku. Saat ini, aku punya anak dan aku tidak ingin anak-anakku mengucapkan kata-kata kotor sekali pun. Aku ingin punya anak-anak dengan akhlak yang baik, punya sopan santun dan punya tutur kata yang lemah lembut. Aku sangat takut ketika dulu aku punya tetangga yang dari rumahnya selalu terdengar kata makian dan kata-kata kotor yang tidak baik didengar. Aku takut setengah mati jika kelak anakku mendengarnya dan menganggap itu sebuah hal yang biasa dan boleh. Ini baru tetangga sebelah rumah yang seperti itu, apalagi kalau pemimpin yang saban hari selalu update diberita dengan kegiatan memaki-maki dan marah-marahnya. Aku sebagai ibu jadi sumpek ngeliatnya. Gerah juga lama-lama. Sampai pada satu titik aku berpikir, ini pasti ada akhirnya. Dan… beginilah akhirnya. Terjadilah apa yang harus terjadi. Atas kehendak yang punya kuasa, orang yang tidak menjaga lisan itu harus menanggung akibatnya.
b.      Soal menista agama, ini yang sangat sensitif. Disini aku ingin bercerita sedikit sebagai pembuka dalam permasalahan ini.
Aku dari lahir dan besar dimana orang dengan berbagai suku dan agama berada. Ya… aku tinggal disalah satu perkebunan di Sumatera Utara. Sudah tau kan biasanya yang bekerja di perkebunan itu beragam orangnya. Sekolahku juga beragam orangnya. Nah… ceritaku ini terjadi saat aku duduk di SMP. Salah satu temanku yang beragama Nasrani memplesetkan nyanyian kerlap kerlip lampu di kota (aku enggak tau judul lagunya) dengan plesetan menghina Tuhannya. Aku langsung marah pada temanku itu. Aku bilang padanya tidak boleh menghina Tuhanmu sendiri. Sekarang aku jadi teringat dengan mei mei di upin ipin. Dia juga marah ketika upin dan ipin tergoda untuk membatalkan puasanya. “Tak boleh! Nanti Tuhan kamu marah mah…” itulah kira-kira kalimat mei mei. Jadi bisa disimpulkan dalam kehidupan ini kita bisa saling mengingatkan untuk kebaikan bukan saling menghina. Sedang aku yang beragama Islam saja marah ketika temanku itu menghina Tuhannya, apalagi seandainya seorang muslim yang menghina Tuhan agama lain. Pasti yang merasa Tuhannya dihina akan marah kepada yang si muslim. Aku pun tidak akan simpati ketika seorang muslim  menghina agama lain. Apa yang terjadi saat ini di negara kita akibat dari tidak menjaga lisan penghina agama Islam. Wajar umat Islam marah ketika agamanya dihina. Tentang ada atau tidaknya niat itu diluar konteks. Toh pembunuh tetaplah pembunuh ada atau tanpa niat. Lagi pula hinaan itu keluar dari mulut yang selalu berkata kotor makanya semua menjadi marah karena tidak sekali dua kali orang itu mengeluarkan kata-kata tidak baik. Mungkin akan sedikit berbeda ketika hal itu keluar dari orang yang tidak pernah menghina, bisa jadi itu kekhilafan atau tak sengaja terlontar, bisa jadi juga pikirannya sedang kacau. Seperti apa yang terjadi atas makian yang dilontarkan salah seorang mantan walikota padang. Kejadian itu cepat terlupakan. Tetapi apa yang terjadi pada saat ini sepertinya sudah menjadi bom yang akan meledak. Kenapa umat Islam menuntut hukuman penangkapan? Menurutku ini dikarenakan untuk memberikan pelajaran dan efek jera. Sama halnya dengan pencuri sandal, penegak hukum memberikan hukuman sekian bulan atau tahun pasti ingin memberikan pelajaran agar yang lain tidak ikut menjadi pencuri. Nah, kasus penghinaan juga sama, untuk memberikan efek jera bagi yang mencoba-coba untuk melakukan penghinaan terhadap agama manapun makanya umat Islam menuntut penangkapan tanpa melihat siapa yang berbuat. Kedepannya jangan sampai ada lagi yang menghina agama. Lagi pula apa yang terjadi saat ini bukan karena sentimen politik dan kebencian antar agama tapi untuk penyelesaian yang disebabkan satu orang penghina agama.
c.       Aksi 212 Super damai bukan karena kebencian terhadap agama apalagi sebab ditunggangi kepentingan politik- kalau pun berpengaruh itu bonus untuk lawan politik orang itu- jadi tidak elok ketika aparat mengatakan adanya makar. Tapi yakinlah, kalau pemimpin yang memimpin negara ini tetap tidak memberikan respon yang baik, rakyat tidak akan tinggal diam. Jangan sampai peristiwa 1998 Trisakti dan Semanggi terulang kembali. Sudah cukup darah yang tertumpah untuk sebuah peradaban baru, cita-cita baru dan kehidupan baru. Jangan lagi membungkam mulut rakyat. Apalagi yang dilakukan aparat terhadap rombongan dari Padang, seperti sweeping bus-bus di Aceh masa DOM. Kita hidup untuk punya kehidupan lebih baik dari hari ini tetapi kenapa pemimpin kita yang diwakili aparatnya melakukan seperti kembali ke jaman perang? Dan yang mereka lakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Rakyat sekarang bukan orang bodoh dan ini yang patut disyukuri, bahwa rakyat Indonesia sudah cerdas tidak menjadi rakyat yang terbelakang. Lagi-lagi aku berharap pemimpin kita adalah orang yang tegas terhadap pelanggaran tanpa melihat siapa yang berbuat.
2.      Ini tentang pemimpin negara. Untuk beberapa saat yang lalu aku sudah bisa menerima pemimpin negara saat ini. Tetapi sejak beliau tidak ada di istana saat rakyatnya berkunjung aku kembali merasa jengkel dengan beliau. Apa beliau tidak ingat bahwa yang menjadikannya duduk disinggasana itu adalah rakyatnya. Bagi yang pernah menonton drama korea berjudul 3 days dan The King Two Heart pasti melihat sosok bagaimana pemimpin di drama itu. Presiden yang diceritakan 3 days adalah presiden yang memiliki cerita kelam yang menyebabkan dia menjadi sasaran makar oleh anak buahnya. Dia hampir saja mati tertembak. Dengan cerita yang sangat mengduk-aduk perasaan akhirnya presiden itu benar-benar merasa menyesal tentang keputusannya yang salah dimasa lalu dan dia meminta maaf kepada rakyatnya. Dia merasa bersalah dengan kematian anak buahnya yang disebabkan oleh dendam kepada sang presiden. Dia juga tak ingin tunduk lagi kepada kepentingan pengusaha yang selama ini sudah menjadikannya pemimpin boneka. Untuk The King Two Heart, rajanya benar-benar berusaha untuk terus melaksanakan perdamaian dengan korea utara. Diluar romantisme dalam cerita, aku mengambil hikmah dari drama ini bahwa pemimpin harus berani dalam mengambil keputusan demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan pengusaha yang berusaha ingin mengambil keuntungan dari pecahnya perang korea selatan dan utara. Ketika selesai menonton kedua drama ini, aku membatin… seandainya pemimpinku seperti mereka, yang lebih mementingkan kepentingan rakyatnya dari pada pengusaha yang hanya untuk kepentingan segelintir orang. Malah kalau yang di The King Two Heart diceritakan bahwa rajanya meninggal karena dia melawan pengusaha yang memiliki kekuasaan. Sang raja tidak ingin dijadikan boneka. Kembali aku harus berkata… Seandainya… tetapi aku harus pergi dari kata seandainya karena aku harus hidup di dunia nyata. Pemimpin yang ada saat ini belum sampai seperti itu. Tetapi sebagai salah satu rakyatnya aku berdoa, semoga Allah membukakan hati beliau untuk membuat keputusan yang tepat atas apa yang terjadi di negara saat ini. Tidak hanya sekedar menjamu makan atau senyum ke sana sini tetapi memberikan keputusan yang menenangkan hati.
Rakyat memerlukan ketegasan yang tidak memihak dari pemimpin yang mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Bukan dari seorang pemimpin yang tidak punya pendirian dan hanya bersandar dipunggung orang-orang yang memiliki banyak kepentingan. Rakyat ingin keadilan ditegakkan. Tidak memandang dari mana asalnya dan apa agamanya.
Tulisanku ini adalah isi hati seorang rakyat Indonesia yang ingin negaranya menjadi negara yang memiliki hukum adil. Semua kita tau adil itu bukan sama rata tetapi memiliki porsi yang patut. Hukum harus ditegakkan tanpa memandang siapa yang bersalah tetapi apa kesalahannya. Teriring doaku untuk yang ada di Jakarta melaksanakan aksi, semoga semuanya diberikan Allah kekuatan lahir dan bathin, sehat selalu dan dicintai Allah. Tulisan ini termotivasi saat melihat video santri-santri yang mau berjalan kaki demi menuntut keadilan demi agamanya. Semoga mereka kelak menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Pemimpin yang adil dan bijaksana. Kepada para santri-santri, ambillah yang baik dari pemimpin sekarang tetapi buanglah apa yang tidak patut dicontoh. Aku yakin dengan peristiwa penistaan agama ini Allah benar-benar memperlihatkan kekuasaannya. Semoga seterusnya kita tidak ditinggalkan Allah.
Aku mohon maaf jika ada yang salah dari tulisan ini, karena aku manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan dosa. Semoga Allah mengampuni dosaku jika tulisan ini terdapat kesalahan dan menyakiti hati orang lain. Aku ingin Indonesia menjadi negara yang tegak kokoh di hadapan negara lain dan rakyatnya menjadi penguasa di tanah sendiri.