Sabtu, 26 November 2016

PARENT WITH NO PROPERTY

       Beberapa bulan lalu aku ke Gramedia dan menemukan buku yang menarik. Kenapa menarik? yang pertama aku liat karena covernya berwarna hijau dan merah, itu warna yang sangat indah menurutku. Kedua, judulnya parent with no property, orang tua yang tidak punya properti (ini cara aku mentransletnya ya...). Ketiga, penulisnya bernama Han Hee Seok, dari namanya sudah jelas kalau penulis adalah orang Korea. Keempat, ketika aku membuka buku itu ( aku lupa halaman berapa) cerita di dalamnya sangat menarik cara penulis bercerita begitu saja mengalir. Tidak seperti menggurui. Tetapi menceritakan bagaimana penulis sebagai seorang ayah mendidik anak-anaknya terutama anak pertamanya.



         Aku termasuk yang sering suka nonton drama Korea, dalam drama sering aku lihat bagaimana mereka bercerita tentang kehidupan masyarakat menengah kebawah yang harus berusaha keras untuk bisa menjadi bagian dari chaebol. Ada yang dengan cara culas dan ada yang dengan cara baik-baik. dari sekian banyak drama yang menarik aku sangat tertarik dengan drama yang menceritakan bagaimana anak-anak sekolah dikorea harus berjuang untuk menjadi juara. 
      Drama seperti Queen class room (aduh ini kalau enggak salah judulnya ya...) yang menceritakan bagaimana seorang guru mengajarkan murid-muridnya dengan tegas. Aku lebih suka mengatakan kalau guru itu tegas bukan keras. kalau guru yang keras dia akan keras dalam keadaan baik ataupun buruk tetapi guru yang tegas itu mengajarkan sesuatu dengan tegas ketika dia harus tegas tetapi dilain waktu dia menunjukkan kasih sayangnya walaupun secara tersembunyi. Aku suka kata-kata guru didrama ini "jika kelak kamu bahagia buatlah temanmu juga bahagia" (kira-kira begitulah kata-katanya), kata-kata ini mengingatkan aku yang tidak begitu peduli teman sekolahku dulu bahagia atau tidak. Drama ini juga menceritakan bagaimana sang guru ingin mengatakan pada muridnya bahwa kehidupan nyata itu sama seperti medan perang jadi sedri kecil harus punya bekal untuk berjuang di medan perang yang saling sikut dan saling tendang. 
      Dari drama ini dan beberapa drama tentang perjuangan kehidupan masyarakat Korea bahwa negara Korea Selatan itu sangat kejam. Kenapa aku bilang kejam? karena sepertinya negara itu bilang "pliss, klo miskin jangan tinggal dimari" (gitu kali ya kata-katanya). Tetapi kekejaman itu menurutku lagi, membuat masyarakatnya berjuang untuk menjadi yang terbaik. . 
      Aku juga pernah membaca tentang tingkat kebahagiaan anak di dunia, dan ternyata tingkat kebahagiaan anak Korea Selatan sangat rendah. aku berkesimpulan ini karena anak-anak Korea Selatan sedari kecil sudah harus berjuang dengan pendidikannya. Pagi pergi ke sekolah dan setelahnya pergi ke Akademi (tempat les tambahan). Sebagaimana yang digambarkan didarama-daramanya bahwa para ibu di Korea Selatan akan berjuang semampunya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
      Nah, biasanya yang aku lihat di drama kan para ibu yang kesana kemari untuk pendidikan anak-anaknya tetapi dibuku parent with no property bukan ibunya tetapi ayah. Ya... sang ayah yang pontang panting memikirkan dan berusaha untuk pendidikan anak-anaknya. Bertanya kesana kemari tentang tips belajar. Pergi keseminar masuk ke universitas, padahal waktu itu anaknya belum samapai SMA (Kalau aku enggak salah). Tetapi semua perjuangan sang ayah bisa mendapatkan hasil ketika anak pertamanya, Geol menjadi juara satu dikelas dan satu sekolah. Aku yang jadi pembaca saja deg-degan sewaktu membaca saat-saat mereka melihat hasil ujian Geol. Ah... hatiku lega saat membaca bahwa apa yang diidamkan orang tua itu terwujud dengan tertulisnya juara satu untuk Geol, anak pertamanya. 
      Buku ini juga menceritakan bagaimana keterbatasan keluarga ini yang bukan orang kaya untuk terus berusaha bagaimana anak-anaknya bisa sekolah tanpa ikut akademi. Sebenarnya motivasi sang ayah berjuang, agar anak-anaknya tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya dan kenapa dia sangat berusaha untuk anak pertamanya menurutku karena ketika anak pertama berhasil itu akan menjadi contoh bagi adik-adiknya untuk berjuang mendapatkan apa yang didapat kakaknya. Walaupun harus pinjam uang sana sini untuk pendidikan anak-anaknya tetapi kemudian pertolongan datang dari mana saja dengan melihat hasil yang dicapai anak-anak mereka. Memang kalau kita mau berjuang pertolongan itu pasti ada. Sampai diakhir buku diceritakan bahwa Geol bisa mendapatkan beasiswa dari perusahaan besar untuk kuliahnya. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Benar-benar Super!! 
      Saya bukan bermaksud mempromokan buku ini tapi saya merekomendasikan untuk membaca buku ini. Ceritanya sangat menarik dan patut disimak. Tetapi sekedar mengingatkan, bahwa mendidik anak jangan dengan cara try and error karena anak bukan barang yang bisa diganti kalau salah asuh. Tetapi kita patut mempelajari bagaimana mendidik anak hanya sebagai bahan untuk referensi bukan sebagai bahan untuk dilaksanakan saat mendidik anak karena setiap anak memiliki karakter masing-masing. Anak kembar saja berbeda karakternya apalagi kalau tidak. Jadi cara mendidik anak pertama dan kedua bisa saja berbeda. Jangan sampai membuat anak stres karena keinginan orang tua yang terlalu memaksa. Ini saja yang bisa aku tulis, semoga bisa bermanfaat.

Selasa, 15 November 2016

Sudah lama aku tidak menulis di blogku ini, alasannya enggak sempat, klise ya. Tapi begitulah tugas rumah menanti dan tugas kuliah menungguku dengan manis untuk diselesaikan. Daripada blog ini tidak terisi, hari ini aku akan mengisinya dengan cerpenku yang ditolak! ha... ha... ha... ditolak kok bangga! tapi begitulah ditolak itu bukan berarti jelek tetapi tolong diperbaiki lagi atau menulislah lagi biar tambah keren tulisannya... halah! sebenarnya kalimat itu untuk menghiburku biar enggak patah semangat. Yah, menulis itu untuk orang-orang yang semangat. Kalau belum-belum sudah letoi karena ditolak ya mending enggak usah nulis ya kan... setuju kan ya... (wajah melas) sudah ah panjang bener pembukaannya, ini nih cerpenku yang ditolak :

EPISODE AKU
Karya : Oli Novedi Santi

“Besok kepada adik-adik semua diharuskan membawa sepasang nyamuk yang diikat dengan tali!” lantang suara perintah di depan membuat kami yang mendengar kaget. Bukan suaranya yang membuat kaget tapi perintah tidak masuk akal itu yang membuat kaget. Apalagi aku. Bingung, juga merasa dibodohi. Ini kegiatan apa sih, pikirku.
Hari ini hari ke tiga aku dan teman-teman mengikuti masa orientasi di kampus. Aku anak baru. Baru di kampus dan baru di kota Padang. Jadi semuanya serba baru. Baru juga merasa bodoh. Aku tidak bisa mengerti dengan kegiatan orientasi ini. Sepertinya tidak ada yang bermanfaat. Mungkin ada sih, tapi sedikit. Lebih banyak acara ngawurnya. Kemarin kami disuruh makan satu permen untuk lima puluh orang, campur cewek dan cowok. Bayangkan saja kalau ada yang terkena penyakit menular berbahaya, apa yang akan terjadi? Mungkin panitia menganggap itu solidaritas, persahabatan. Tapi kan, enggak gitu juga kali… kalau soal penyakit kan yang menderita masing-masing. Mengobatinya juga pakai uang masing-masing. Aku betul-betul jijik. Maunya sih nantang tapi aku di sini kan baru, juga tidak mengerti bagaimana keadaan di  sini. Nanti salah-salah bisa kacau.
Di sebelahku sekarang duduk temanku satu kos. Anak Pekanbaru. Namanya Messi. Messi juga sama denganku. Males banget mengikuti acara ini.
“Mau gimana lagi, kita ikuti ajalah,” itu yang keluar dari mulutnya kemarin saat aku mengeluhkan acara orientasi yang kami jalani.
Hampir magrib ketika aku pulang ke kos. Penat. Lapar. Capek. Ah… pokoknya menderita sekali. Yah… sudahlah istirahat dulu di kamar. Hidup jauh dari orang tua baru kurasakan sekarang. Tapi aku tekadkan saja. Demi cita-cita. Apalagi aku sendiri yang meminta kuliah di kota Padang. Padahal di kota Medan banyak juga universitas yang bagus. Aku hanya ingin mencari suasana baru. Lagi pula di sini katanya tempat belajar agama. Jadi aku memilih kuliah di kota Padang.
Malam ini aku dan Messi membahas bagaimana mendapatkan sepasang nyamuk untuk besok. Sepasang saudara-saudara. Sekali lagi sepasang. Bagaimana mencari sepasang? Akhirnya dengan raket nyamuk kami membasmi nyamuk yang ada di kamar Messi. Kami ambil dua nyamuk dan diikat dengan benang. Susahnya tidak perlu di tanya. Soal sepasang atau tidak kami sudah tidak peduli lagi.
“Sudah Vi, enggak usah dipikirin yang penting kita dapat nyamuknya,” kata Messi.
“Hatiku merasa enggak enak aja. Dengan perintah bodoh ini. Apa mereka enggak punya ide yang lebih mendidik lagi untuk orientasi mahasiswa?”
“Jangan terlalu dibawa ke perasaan yang ada nanti kamu malah sakit hati trus bunuh diri.”
“Jiaah, bunuh diri. Yang ada aku mau menunjukkan sama senior-senior itu kalau aku bisa lebih hebat dari mereka.”
“Betul, kalau mau protes bisa kita lakukan kelak saat kuliah. Lagi pula kita tidak pernah tahu kelak kita jadi apa setelah selesai kuliah. Siapa tahu ternyata besok kamu jadi bos senior-senior kita itu.”
“Amin… mudah-mudahan doa kamu terkabul.”
“Tapi jangan balas dendam ya, enggak baik.” Messi tertawa dengan kata-katanya sendiri. Aku pun ikut tertawa.
Pagi harinya jam enam aku dan Messi sudah sampai di kampus. Tepatnya jam enam pagi kurang lima menit. Kemarin jam enam lewat dua menit kami sampai, mendapat hukuman dari panitia karena terlambat. Ternyata di depan kampus sudah banyak mahasiswa baru yang hadir. Dan anehnya semuanya sedang lompat kodok. Dihukum!
“Ayo… yang baru datang bergabung. Lompat kodok sepuluh kali,” terdengar perintah salah satu panitia orientasi. Aku jadi bingung, salah kami apa?
“Bang, kenapa kami dihukum?” akhirnya salah satu dari mahasiswa baru memberanikan diri bertanya.
“Kenapa tanya?” jawab salah satu panitia.
“Yah, kan harus jelas sebab kami dihukum.” Jawab mahasiswa baru itu. Sepertinya anak dari jurusan manajemen karena atributnya sama denganku.
“Kalian tidak mematuhi jam.”
“Kami kan datangnya jam enam kurang, kenapa masih dihukum?” kataku akhirnya memberanikan diri.
“Apa pasal yang sudah kami katakan pada pertemuan pertama kita. Ucapkan sama-sama!” Lantang sekali suara panitia.
Yah… itu lagi deh. Dengan malas aku mengucapkannya bersama teman-teman.
“Pasal satu, senior tidak pernah salah. Pasal dua, jika senior salah kembali ke pasal satu.”
“Nah, sudah tahu aturannya kan?” panitia senyum-senyum melihat kami. Ada juga yang tertawa. Hatiku sebal bin kesal. Memangnya ada aturan yang seperti itu? Akal-akalan mereka saja.
“Hari ini, adalah hari terakhir kita bersama dalam acara orientasi. Siang nanti kalian akan mendapatkan buku suci yang sangat penting untuk bisa menjalankan perkuliahan di kampus ini. Jadi tetaplah semangat.” Walau begitu semangatnya senior di depanku bicara tak sedikit pun membuatku semangat. Aku jengah.
Sampai siang hari aku masih kesal. Sudah susah-susah mencari nyamuk ternyata tidak ada pembicaraan mengenai nyamuk. Yang ada malah sebagian senior laki-laki mencari mangsa alias mahasiswi yang cantik-cantik untuk mengambil setoran. Bukan uang sih setorannya. Tapi sama saja malak. Lha, yang diminta coklat toblerone atau silverqueen. Bukan cuma satu tapi bisa dua atau tiga.  Menyebalkan!
“Siang ini kami akan membagikan buku suci. Semuanya harus mengelilingi ruangan ini dengan merangkak.”
What? Merangkak? Apalagi ini? untuk mendapatkan Al Quran, kitab yang benar-benar suci saja tidak perlu merangkak. Sesuci apa sih bukunya? Aku hanya bisa bertanya dalam hati. Yang lebih anehnya mengambilnya harus dari bawah kaki seorang senior perempuan yang duduk di salah satu kursi kemudian kakinya berada di kursi di depannya. Ini apa sih? Tapi lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Aku lihat wajah seniorku itu. Jijik. Asli. Tega-teganya dia menghinakan kami dengan seperti itu.
“Tunduk!” sebuah tangan mampir di kepalaku. Membuatku kaget. Tapi tak berdaya. Namun itu membuatku mengingat wajah senior perempuan itu. Masih dengan perasaan jijik.
Hari sudah sore ketika semua kami di bariskan di depan kampus untuk penutupan acara.
“Semua yang kami lakukan demi kepentingan adik-adik semua. Jangan ada dendam diantara kita. Mari kita bernyanyi,” Suara riuh langsung terdengar. Mereka bergoyang dan bernyanyi bersama. Aku memilih menghindar. Perutku mual. Apalagi setelah membaca buku yang katanya suci. Buku yang berisi peraturan-peraturan perkuliahan. Hah! Karena buku tipis ini aku harus menghinakan diriku. Mungkin sebagian orang bilang itu hanya untuk bersenang-senang. Tapi tidak bagiku. Itu menyangkut harkat dan martabat manusia. Tidak bisa dianggap enteng. Ah… yang penting acara ini sudah selesai. Minggu depan mulai awal perkuliahan.
‘***
“Kak, ini CV karyawan barunya,” Lili salah satu stafku memberikan beberapa map.
Aku membuka satu persatu dan membacanya. Sebuah perusahaan jasa yang baru tiga tahun ini aku dirikan bersama suamiku memang membutuhkan karyawan baru. Tiba-tiba tanganku berhenti pada salah satu CV. Aku melihat fotonya dengan seksama. Wajah itu tidak akan pernah bisa kulupakan. Wajah yang membuatku ingin muntah. Ah… kenapa perasaan ini masih ada padahal itu beberapa tahun lalu. Yah, itu wajah seniorku dulu. Senior yang kakinya harus aku lewati untuk mengambil buku suci ketika masa orientasi.
Aku jadi ingat doa Messi. Memang benar bahwa kita tidak pernah tahu kehidupan kita kelak. Jadi jangan sampai merendahkan orang lain walau itu sebuah gurauan dan jangan ketika punya kekuasaan, merasa ‘di atas’ terus semena-mena pada orang lain. Semua kita punya batas. Teringat nasihat ayahku ketika aku akan pergi merantau dulu.
“Jika kita berbuat baik kepada orang lain, mungkin tidak segera kita dapatkan balasannya tetapi yakinlah suatu hari akan kita rasakan manfaatnya. Kalaupun bukan untuk kita mungkin untuk anak atau cucu-cucu kita,” nasehat itulah yang selalu aku ingat.
“Kak, bagaimana?” suara Lili mengagetkanku.
Apakah seniorku ini aku singkirkan atau… ah aku harus beri kesempatan untuknya. Menurutku setiap orang butuh kesempatan untuk bisa melangkah. Seperti kata Messi, aku tidak boleh dendam.