Rabu, 08 Juni 2016

RUMAH DINAS


Kata orang aku ini cahkeb alias cah kebon. Walau lahirnya di rumah sakit, tetap saja rumah sakitnya milik perkebunan. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Makanya jangan heran jika mendengar aku dipanggil kakak oleh setiap orang di Afdeling dimana aku dan keluargaku tinggal.
Setiap perkebunan punya beberapa Afdeling dan aku  tinggal di Afdeling IV Pondok Baru perkebunan Gunung Para. Tinggal di perkebunan sudah tentu kami tinggal di rumah dinas milik perkebunan. Beruntungnya kami, rumah kami memiliki kamar mandi. Tidak seperti beberapa rumah dinas yang lain, kamar mandinya harus membuat sendiri. Kalau aku bilang sih kamar mandi mereka bukan kamar mandi karena terdiri dari kayu yang dipancang ke tanah kemudian ada yang memakai terpal untuk dindingnya dan ada juga yang memakai karung plastik. Miris ya… yah begitulah hidup diperkebunan.
Cerita tentang rumah dinas perkebunan kami masih banyak. (Jangan bosan bacanya ya…). Rumah kami permanen. Tetapi aku tidak habis pikir dengan bentuk rumah kami. Kami selalu bertanya-tanya tentang siapa arsitek rumah itu. Jendela di belakang kalau yang sebelah kanannya dibuka akan menutupi pintu dapur di sebelahnya. Bisa dibayangkan kan? Karena itulah jendela sebelah kanan di belakang tidak pernah kami buka. Selain itu, pintu kamar mandinya di luar. Jadi jika kita ingin ke kamar mandi harus keluar dulu dan itu adanya di ujung rumah. Sudah terbayangkan? Begitulah rumah kami. Pertanyaan kami selalu saja, kenapa tidak di dalam saja pintu kamar mandi padahal dinding kamar mandi itu luas tidak ada penghalang apa pun untuk membuat pintu di sana.
“Itu dibuat agar kita turut menjaga keamanan perkebunan ini. Dengan adanya pintu di luar jadi jika kita ingin buang air pada malam hari kan kita bisa memantau apa yang terjadi di luar,” itulah jawaban diplomatis papa.
Jangan kira bentuk semua rumah sama. Tidak. Rumah itu bentuknya berbeda-beda. Seperti yang kubilang tadi rumah dinas itu ada yang tidak punya kamar mandi tetapi di dalamnya ada seperti tungku untuk memasak.
“Mereka tidak pernah memakainya karena akan membuat hitam rumah,” ini kata mamaku yang sering pergi ke rumah tetangga jika mereka ada yang sakit.
Tapi ada yang bagusnya dari rumah dinas itu. Masing-masing rumah di sampingnya memiliki halaman untuk bercocok tanam.
Disini aku akan menceritakan suka dan tidak sukanya tinggal di perkebunan. Tapi ini terjadinya saat aku SD karena saat aku disekolah lanjutan akan kuceritakan kelak. Aku punya beberapa cerita. Yang akan terus kuingat sampai aku tua. Terutama tentang aku dan apa yang terjadi di Afdeling. Tempat dimana sebagian umurku habis di sana. Sebuah Afdeling yang cukup jauh dari jalan besar atau jalan lintas. Jika naik sepeda jaraknya kira-kira satu jam. Naik kereta kurang lebih setengah jam. Naik motor kira-kira satu jam. Kenapa naik motor sama dengan naik sepeda? Jawabannya adalah jika naik sepeda kita bisa menggunakan jalan setapak melewati pohon-pohon karet sedangkan naik motor kita harus dari jalan perkebunan yang buruknya kelewatan. Berbatu dan tidak mulus. Jadi supirnya harus pandai-pandai memilih jalan yang harus dilalui.
Aku juga belum bercerita bahwa rumahku itu bisa ditemukan kalau dari siantar akan terlihat pos polisi di sebelah kanan menghadap sebuah jalan perkebunan. Jika dari tebing tinggi berarti pos polisinya sebelah kiri sementara jalan menuju rumahku disebelah kanan. Jalan yang sampai kini masih seperti saat aku SD.
Mungkin ini sedikit pembukaan ceritaku tentang suka dan tidak sukanya aku tinggal di perkebunan. Tempat dimana aku banyak memiliki kenangan. Sampai sekarang pun kenangan itu tak bisa lekang dari ingatanku. Tak pernah aku menyesal tinggal di sana karena aku selalu berprinsip, walaupun anak kampung yang penting tidak kampungan. Aku dan adik-adikku tetap berteman dengan anak-anak di afdeling tetapi kami tidak selalu mengikuti gaya mereka. Sampai sekarang aku masih ingat temanku satu kelas ketika di SD, jangankan punya tali pinggang celana sekolahnya malah harus dipasang karet gelang atau tali plastik agar erat. Belum lagi sepatu yang mereka pakai rata-rata memakai sepatu toyo yang bahannya dari plastik. Kalau tas masih ada yang membawa plastik kresek ke sekolah karena itu penampilanku dan adikku yang sedikit lebih agak menonjol dibanding mereka. Hanya saja kami sudah diajarkan untuk tidak sombong agar bisa berbaur dengan mereka. Bagiku pun tak ada kata sombong justru mereka senang berteman.
Ada satu lagi yang aku ingat saat aku kecil. Mereka jarang sekali pergi ke kota. Seperti ke Tebing Tinggi. Bagi mereka itu sebuah kemewahan makanya kehidupan mereka begitu kampungan. Mereka seperti katak dalam tempurung. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka memilih membeli di kedai-kedai kecil milik tetangga depan rumahku. Kalau untuk pakaian mereka akan menunggu bonusan yang ini nanti aku ceritakan lebih lanjut. Dan kalau untuk perlengkapan rumah tangga mereka akan dengan senang hati kredit dengan sales-sales toko yang sering datang. Aku bilang kehidupan mereka sangat suram. Walaupun mereka tetap saja tertawa gembira. bagiku mereka benar-benar suram.
Soal penerangan di Afdeling kami… ah sebaiknya nanti saja aku ceritakan. Miris. Tak bisa dikatakan dengan kata-kata. Aku teringat bagaimana air mata mama jatuh berurai saat kami baru pindah ke Afdeling ini. Sebelumnya kami tinggal di rumah dinas juga hanya saja masih lebih bagus. Rumah dinas itu adanya di komplek perumahan perkebunan bagi pegawai yang bekerja di kantor direksi. Namun entah karena apa aku tak tahu, mamaku dipindahkan ke Afdeling dimana kami tinggal sekarang.
“Ini masih lebih baik, karena tidak terlalu jauh,” kata papa menghibur mama.
Memang kalau dibandingkan dengan teman mama yang lain mama termasuk yang paling dekat pindahnya. Sejak pindah, kami tidak punya pembantu lagi. Mama harus mengerjakan semuanya dibantu oleh papa dan kami. Sungguh berat buat mama. Belum lagi dari keluarga mama yang sangat menyayangkan mama harus pindah ke tempat yang terpencil. Tapi dengan tekat yang kuat mama menguatkan hati dan bertahan. Apalagi orang-orang perkebunan itu membutuhkan mama.
Kalau soal beras, kami biasa makan beras catu dari bulog. Dibilang beras catu karena beras catuan. Setiap hari kamis minggu ke dua akan ada berasan di pajak depan rumahku. Kadang kami dapat beras thailand lain hari dapat beras vietnam. Kadang dapat beras yang putih bersih lain kali dapatnya beras jelek dan bau. Tapi bagaimanapun aku dan adik-adikku tidak pernah mengeluh. Soal ini nanti juga akan kuceritakan.
“Yang penting kita bersyukur, masih banyak orang yang tidak bisa makan nasi,” petuah papa suatu hari. Kemudian papa akan menceritakan kepada kami kesusahan papa dimasa muda papa untuk mencari sesuap nasi. 
Cerita suka duka tinggal di rumah dinas mama dan papaku masih banyak lagi. Ok... to be continued ya… 

Note : 
  1. Kereta     : Sepeda Motor
  2. Motor      : Mobil
  3. Bonusan   : Saat perkebunan memberikan bonus untuk karyawan
  4. Berasan    : Pembagian beras
  5. Pajak        : Tempat pertemuan, jika bonusan biasanya ada orang yang datang untuk berjualan di sana dan jika ada layar tancap letaknya juga di sana.