212
SUPER DAMAI
Dengan
tulisan ini aku ingin menegaskan dimana kakiku tegak. Aku ingin menuliskan apa
yang aku pikirkan tentang negaraku ini karena kediamanku berarti aku tidak
mencintai negaraku maka dari itu tulisan ini aku harap dapat menenangkan hatiku
yang galau. Agar tulisan ini tidak melebar kemana-mana aku memberi poin
permasalahan yang akan dibahas :
- Penyebab terjadinya peristiwa 4 November 2016 dan 2 Desember 2016 yang akan dilaksanakan.
- Pemimpin yang diinginkan rakyat.
Jadi
dengan kedua poin permasalahan diatas aku akan berbicara lewat tulisan ini
karena dua hal ini yang menurutku sangat mengganjal dan patut diperbincangkan.
1. Apa
yang terjadi saat ini menurutku adalah sebuah bom waktu yang memang siap
meledak. Hal ini sudah aku perkirakan saat seorang pemimpin yang dengan arogannya
memaki dan marah-marah. Aku berkata dalam hati “sampai kapan dia bisa seperti
itu? Dan sampai kapan orang yang mendengarnya tahan dengan itu?” dibawah ini
akan aku jelaskan poin-poin pendapatku.
a. Bagiku
mulut yang selalu marah-marah dan mengeluarkan makian itu tidak baik. Apalagi
aku diajarkan orang tua dari kecil tidak boleh berkata kotor dan memaki. Aku
pun tidak pernah mendengar hal yang tidak baik itu keluar dari mulut kedua
orang tuaku. Saat ini, aku punya anak dan aku tidak ingin anak-anakku
mengucapkan kata-kata kotor sekali pun. Aku ingin punya anak-anak dengan akhlak
yang baik, punya sopan santun dan punya tutur kata yang lemah lembut. Aku
sangat takut ketika dulu aku punya tetangga yang dari rumahnya selalu terdengar
kata makian dan kata-kata kotor yang tidak baik didengar. Aku takut setengah
mati jika kelak anakku mendengarnya dan menganggap itu sebuah hal yang biasa
dan boleh. Ini baru tetangga sebelah rumah yang seperti itu, apalagi kalau
pemimpin yang saban hari selalu update diberita dengan kegiatan memaki-maki dan
marah-marahnya. Aku sebagai ibu jadi sumpek ngeliatnya. Gerah juga lama-lama.
Sampai pada satu titik aku berpikir, ini pasti ada akhirnya. Dan… beginilah
akhirnya. Terjadilah apa yang harus terjadi. Atas kehendak yang punya kuasa,
orang yang tidak menjaga lisan itu harus menanggung akibatnya.
b. Soal
menista agama, ini yang sangat sensitif. Disini aku ingin bercerita sedikit
sebagai pembuka dalam permasalahan ini.
Aku dari lahir dan
besar dimana orang dengan berbagai suku dan agama berada. Ya… aku tinggal
disalah satu perkebunan di Sumatera Utara. Sudah tau kan biasanya yang bekerja
di perkebunan itu beragam orangnya. Sekolahku juga beragam orangnya. Nah…
ceritaku ini terjadi saat aku duduk di SMP. Salah satu temanku yang beragama
Nasrani memplesetkan nyanyian kerlap kerlip lampu di kota (aku enggak tau judul
lagunya) dengan plesetan menghina Tuhannya. Aku langsung marah pada temanku
itu. Aku bilang padanya tidak boleh menghina Tuhanmu sendiri. Sekarang aku jadi
teringat dengan mei mei di upin ipin. Dia juga marah ketika upin dan ipin
tergoda untuk membatalkan puasanya. “Tak boleh! Nanti Tuhan kamu marah mah…”
itulah kira-kira kalimat mei mei. Jadi bisa disimpulkan dalam kehidupan ini
kita bisa saling mengingatkan untuk kebaikan bukan saling menghina. Sedang aku
yang beragama Islam saja marah ketika temanku itu menghina Tuhannya, apalagi
seandainya seorang muslim yang menghina Tuhan agama lain. Pasti yang merasa
Tuhannya dihina akan marah kepada yang si muslim. Aku pun tidak akan simpati
ketika seorang muslim menghina agama
lain. Apa yang terjadi saat ini di negara kita akibat dari tidak menjaga lisan
penghina agama Islam. Wajar umat Islam marah ketika agamanya dihina. Tentang
ada atau tidaknya niat itu diluar konteks. Toh pembunuh tetaplah pembunuh ada
atau tanpa niat. Lagi pula hinaan itu keluar dari mulut yang selalu berkata
kotor makanya semua menjadi marah karena tidak sekali dua kali orang itu
mengeluarkan kata-kata tidak baik. Mungkin akan sedikit berbeda ketika hal itu
keluar dari orang yang tidak pernah menghina, bisa jadi itu kekhilafan atau tak
sengaja terlontar, bisa jadi juga pikirannya sedang kacau. Seperti apa yang
terjadi atas makian yang dilontarkan salah seorang mantan walikota padang.
Kejadian itu cepat terlupakan. Tetapi apa yang terjadi pada saat ini sepertinya
sudah menjadi bom yang akan meledak. Kenapa umat Islam menuntut hukuman
penangkapan? Menurutku ini dikarenakan untuk memberikan pelajaran dan efek
jera. Sama halnya dengan pencuri sandal, penegak hukum memberikan hukuman
sekian bulan atau tahun pasti ingin memberikan pelajaran agar yang lain tidak
ikut menjadi pencuri. Nah, kasus penghinaan juga sama, untuk memberikan efek
jera bagi yang mencoba-coba untuk melakukan penghinaan terhadap agama manapun
makanya umat Islam menuntut penangkapan tanpa melihat siapa yang berbuat. Kedepannya
jangan sampai ada lagi yang menghina agama. Lagi pula apa yang terjadi saat ini bukan karena sentimen politik
dan kebencian antar agama tapi untuk penyelesaian yang disebabkan satu orang
penghina agama.
c. Aksi
212 Super damai bukan karena kebencian terhadap agama apalagi sebab ditunggangi
kepentingan politik- kalau pun berpengaruh itu bonus untuk lawan politik orang
itu- jadi tidak elok ketika aparat mengatakan adanya makar. Tapi yakinlah,
kalau pemimpin yang memimpin negara ini tetap tidak memberikan respon yang baik,
rakyat tidak akan tinggal diam. Jangan sampai peristiwa 1998 Trisakti dan
Semanggi terulang kembali. Sudah cukup darah yang tertumpah untuk sebuah
peradaban baru, cita-cita baru dan kehidupan baru. Jangan lagi membungkam mulut
rakyat. Apalagi yang dilakukan aparat terhadap rombongan dari Padang, seperti
sweeping bus-bus di Aceh masa DOM. Kita hidup untuk punya kehidupan lebih baik
dari hari ini tetapi kenapa pemimpin kita yang diwakili aparatnya melakukan seperti
kembali ke jaman perang? Dan yang mereka lakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Rakyat
sekarang bukan orang bodoh dan ini yang patut disyukuri, bahwa rakyat Indonesia
sudah cerdas tidak menjadi rakyat yang terbelakang. Lagi-lagi aku berharap pemimpin kita adalah orang
yang tegas terhadap pelanggaran tanpa melihat siapa yang berbuat.
2. Ini
tentang pemimpin negara. Untuk beberapa saat yang lalu aku sudah bisa menerima
pemimpin negara saat ini. Tetapi sejak beliau tidak ada di istana saat
rakyatnya berkunjung aku kembali merasa jengkel dengan beliau. Apa beliau tidak
ingat bahwa yang menjadikannya duduk disinggasana itu adalah rakyatnya. Bagi
yang pernah menonton drama korea berjudul 3 days dan The King Two Heart pasti
melihat sosok bagaimana pemimpin di drama itu. Presiden yang diceritakan 3 days
adalah presiden yang memiliki cerita kelam yang menyebabkan dia menjadi sasaran
makar oleh anak buahnya. Dia hampir saja mati tertembak. Dengan cerita yang
sangat mengduk-aduk perasaan akhirnya presiden itu benar-benar merasa menyesal
tentang keputusannya yang salah dimasa lalu dan dia meminta maaf kepada
rakyatnya. Dia merasa bersalah dengan kematian anak buahnya yang disebabkan
oleh dendam kepada sang presiden. Dia juga tak ingin tunduk lagi kepada
kepentingan pengusaha yang selama ini sudah menjadikannya pemimpin boneka.
Untuk The King Two Heart, rajanya benar-benar berusaha untuk terus melaksanakan
perdamaian dengan korea utara. Diluar romantisme dalam cerita, aku mengambil
hikmah dari drama ini bahwa pemimpin harus berani dalam mengambil keputusan
demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan pengusaha yang berusaha ingin
mengambil keuntungan dari pecahnya perang korea selatan dan utara. Ketika
selesai menonton kedua drama ini, aku membatin… seandainya pemimpinku seperti
mereka, yang lebih mementingkan kepentingan rakyatnya dari pada pengusaha yang
hanya untuk kepentingan segelintir orang. Malah kalau yang di The King Two
Heart diceritakan bahwa rajanya meninggal karena dia melawan pengusaha yang
memiliki kekuasaan. Sang raja tidak ingin dijadikan boneka. Kembali aku harus
berkata… Seandainya… tetapi aku harus pergi dari kata seandainya karena aku
harus hidup di dunia nyata. Pemimpin yang ada saat ini belum sampai seperti
itu. Tetapi sebagai salah satu rakyatnya aku berdoa, semoga Allah
membukakan hati beliau untuk membuat keputusan yang tepat atas apa yang terjadi
di negara saat ini. Tidak hanya sekedar menjamu makan atau senyum ke sana sini
tetapi memberikan keputusan yang menenangkan hati.
Rakyat
memerlukan ketegasan yang tidak memihak dari pemimpin yang mampu berdiri tegak
di atas kakinya sendiri. Bukan dari seorang pemimpin yang tidak punya pendirian
dan hanya bersandar dipunggung orang-orang yang memiliki banyak kepentingan.
Rakyat ingin keadilan ditegakkan. Tidak memandang dari mana asalnya dan apa
agamanya.
Tulisanku
ini adalah isi hati seorang rakyat Indonesia yang ingin negaranya menjadi
negara yang memiliki hukum adil. Semua kita tau adil itu bukan sama rata tetapi
memiliki porsi yang patut. Hukum harus ditegakkan tanpa memandang siapa yang
bersalah tetapi apa kesalahannya. Teriring doaku untuk yang ada di Jakarta
melaksanakan aksi, semoga semuanya diberikan Allah kekuatan lahir dan bathin,
sehat selalu dan dicintai Allah. Tulisan ini termotivasi saat melihat video
santri-santri yang mau berjalan kaki demi menuntut keadilan demi agamanya. Semoga
mereka kelak menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Pemimpin yang adil dan
bijaksana. Kepada para santri-santri, ambillah yang baik dari pemimpin sekarang
tetapi buanglah apa yang tidak patut dicontoh. Aku yakin dengan peristiwa
penistaan agama ini Allah benar-benar memperlihatkan kekuasaannya. Semoga seterusnya
kita tidak ditinggalkan Allah.
Aku
mohon maaf jika ada yang salah dari tulisan ini, karena aku manusia biasa yang
tak luput dari khilaf dan dosa. Semoga Allah mengampuni dosaku jika tulisan ini
terdapat kesalahan dan menyakiti hati orang lain. Aku ingin Indonesia menjadi negara yang tegak kokoh di
hadapan negara lain dan rakyatnya menjadi penguasa di tanah sendiri.
