Kamis, 01 Desember 2016

212 SUPER DAMAI


212 SUPER DAMAI
Dengan tulisan ini aku ingin menegaskan dimana kakiku tegak. Aku ingin menuliskan apa yang aku pikirkan tentang negaraku ini karena kediamanku berarti aku tidak mencintai negaraku maka dari itu tulisan ini aku harap dapat menenangkan hatiku yang galau. Agar tulisan ini tidak melebar kemana-mana aku memberi poin permasalahan yang akan dibahas :
  1. Penyebab terjadinya peristiwa 4 November 2016 dan 2 Desember 2016 yang akan dilaksanakan.
  2.  Pemimpin yang diinginkan rakyat.
Jadi dengan kedua poin permasalahan diatas aku akan berbicara lewat tulisan ini karena dua hal ini yang menurutku sangat mengganjal dan patut diperbincangkan.
1.      Apa yang terjadi saat ini menurutku adalah sebuah bom waktu yang memang siap meledak. Hal ini sudah aku perkirakan saat seorang pemimpin yang dengan arogannya memaki dan marah-marah. Aku berkata dalam hati “sampai kapan dia bisa seperti itu? Dan sampai kapan orang yang mendengarnya tahan dengan itu?” dibawah ini akan aku jelaskan poin-poin pendapatku.
a.       Bagiku mulut yang selalu marah-marah dan mengeluarkan makian itu tidak baik. Apalagi aku diajarkan orang tua dari kecil tidak boleh berkata kotor dan memaki. Aku pun tidak pernah mendengar hal yang tidak baik itu keluar dari mulut kedua orang tuaku. Saat ini, aku punya anak dan aku tidak ingin anak-anakku mengucapkan kata-kata kotor sekali pun. Aku ingin punya anak-anak dengan akhlak yang baik, punya sopan santun dan punya tutur kata yang lemah lembut. Aku sangat takut ketika dulu aku punya tetangga yang dari rumahnya selalu terdengar kata makian dan kata-kata kotor yang tidak baik didengar. Aku takut setengah mati jika kelak anakku mendengarnya dan menganggap itu sebuah hal yang biasa dan boleh. Ini baru tetangga sebelah rumah yang seperti itu, apalagi kalau pemimpin yang saban hari selalu update diberita dengan kegiatan memaki-maki dan marah-marahnya. Aku sebagai ibu jadi sumpek ngeliatnya. Gerah juga lama-lama. Sampai pada satu titik aku berpikir, ini pasti ada akhirnya. Dan… beginilah akhirnya. Terjadilah apa yang harus terjadi. Atas kehendak yang punya kuasa, orang yang tidak menjaga lisan itu harus menanggung akibatnya.
b.      Soal menista agama, ini yang sangat sensitif. Disini aku ingin bercerita sedikit sebagai pembuka dalam permasalahan ini.
Aku dari lahir dan besar dimana orang dengan berbagai suku dan agama berada. Ya… aku tinggal disalah satu perkebunan di Sumatera Utara. Sudah tau kan biasanya yang bekerja di perkebunan itu beragam orangnya. Sekolahku juga beragam orangnya. Nah… ceritaku ini terjadi saat aku duduk di SMP. Salah satu temanku yang beragama Nasrani memplesetkan nyanyian kerlap kerlip lampu di kota (aku enggak tau judul lagunya) dengan plesetan menghina Tuhannya. Aku langsung marah pada temanku itu. Aku bilang padanya tidak boleh menghina Tuhanmu sendiri. Sekarang aku jadi teringat dengan mei mei di upin ipin. Dia juga marah ketika upin dan ipin tergoda untuk membatalkan puasanya. “Tak boleh! Nanti Tuhan kamu marah mah…” itulah kira-kira kalimat mei mei. Jadi bisa disimpulkan dalam kehidupan ini kita bisa saling mengingatkan untuk kebaikan bukan saling menghina. Sedang aku yang beragama Islam saja marah ketika temanku itu menghina Tuhannya, apalagi seandainya seorang muslim yang menghina Tuhan agama lain. Pasti yang merasa Tuhannya dihina akan marah kepada yang si muslim. Aku pun tidak akan simpati ketika seorang muslim  menghina agama lain. Apa yang terjadi saat ini di negara kita akibat dari tidak menjaga lisan penghina agama Islam. Wajar umat Islam marah ketika agamanya dihina. Tentang ada atau tidaknya niat itu diluar konteks. Toh pembunuh tetaplah pembunuh ada atau tanpa niat. Lagi pula hinaan itu keluar dari mulut yang selalu berkata kotor makanya semua menjadi marah karena tidak sekali dua kali orang itu mengeluarkan kata-kata tidak baik. Mungkin akan sedikit berbeda ketika hal itu keluar dari orang yang tidak pernah menghina, bisa jadi itu kekhilafan atau tak sengaja terlontar, bisa jadi juga pikirannya sedang kacau. Seperti apa yang terjadi atas makian yang dilontarkan salah seorang mantan walikota padang. Kejadian itu cepat terlupakan. Tetapi apa yang terjadi pada saat ini sepertinya sudah menjadi bom yang akan meledak. Kenapa umat Islam menuntut hukuman penangkapan? Menurutku ini dikarenakan untuk memberikan pelajaran dan efek jera. Sama halnya dengan pencuri sandal, penegak hukum memberikan hukuman sekian bulan atau tahun pasti ingin memberikan pelajaran agar yang lain tidak ikut menjadi pencuri. Nah, kasus penghinaan juga sama, untuk memberikan efek jera bagi yang mencoba-coba untuk melakukan penghinaan terhadap agama manapun makanya umat Islam menuntut penangkapan tanpa melihat siapa yang berbuat. Kedepannya jangan sampai ada lagi yang menghina agama. Lagi pula apa yang terjadi saat ini bukan karena sentimen politik dan kebencian antar agama tapi untuk penyelesaian yang disebabkan satu orang penghina agama.
c.       Aksi 212 Super damai bukan karena kebencian terhadap agama apalagi sebab ditunggangi kepentingan politik- kalau pun berpengaruh itu bonus untuk lawan politik orang itu- jadi tidak elok ketika aparat mengatakan adanya makar. Tapi yakinlah, kalau pemimpin yang memimpin negara ini tetap tidak memberikan respon yang baik, rakyat tidak akan tinggal diam. Jangan sampai peristiwa 1998 Trisakti dan Semanggi terulang kembali. Sudah cukup darah yang tertumpah untuk sebuah peradaban baru, cita-cita baru dan kehidupan baru. Jangan lagi membungkam mulut rakyat. Apalagi yang dilakukan aparat terhadap rombongan dari Padang, seperti sweeping bus-bus di Aceh masa DOM. Kita hidup untuk punya kehidupan lebih baik dari hari ini tetapi kenapa pemimpin kita yang diwakili aparatnya melakukan seperti kembali ke jaman perang? Dan yang mereka lakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Rakyat sekarang bukan orang bodoh dan ini yang patut disyukuri, bahwa rakyat Indonesia sudah cerdas tidak menjadi rakyat yang terbelakang. Lagi-lagi aku berharap pemimpin kita adalah orang yang tegas terhadap pelanggaran tanpa melihat siapa yang berbuat.
2.      Ini tentang pemimpin negara. Untuk beberapa saat yang lalu aku sudah bisa menerima pemimpin negara saat ini. Tetapi sejak beliau tidak ada di istana saat rakyatnya berkunjung aku kembali merasa jengkel dengan beliau. Apa beliau tidak ingat bahwa yang menjadikannya duduk disinggasana itu adalah rakyatnya. Bagi yang pernah menonton drama korea berjudul 3 days dan The King Two Heart pasti melihat sosok bagaimana pemimpin di drama itu. Presiden yang diceritakan 3 days adalah presiden yang memiliki cerita kelam yang menyebabkan dia menjadi sasaran makar oleh anak buahnya. Dia hampir saja mati tertembak. Dengan cerita yang sangat mengduk-aduk perasaan akhirnya presiden itu benar-benar merasa menyesal tentang keputusannya yang salah dimasa lalu dan dia meminta maaf kepada rakyatnya. Dia merasa bersalah dengan kematian anak buahnya yang disebabkan oleh dendam kepada sang presiden. Dia juga tak ingin tunduk lagi kepada kepentingan pengusaha yang selama ini sudah menjadikannya pemimpin boneka. Untuk The King Two Heart, rajanya benar-benar berusaha untuk terus melaksanakan perdamaian dengan korea utara. Diluar romantisme dalam cerita, aku mengambil hikmah dari drama ini bahwa pemimpin harus berani dalam mengambil keputusan demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan pengusaha yang berusaha ingin mengambil keuntungan dari pecahnya perang korea selatan dan utara. Ketika selesai menonton kedua drama ini, aku membatin… seandainya pemimpinku seperti mereka, yang lebih mementingkan kepentingan rakyatnya dari pada pengusaha yang hanya untuk kepentingan segelintir orang. Malah kalau yang di The King Two Heart diceritakan bahwa rajanya meninggal karena dia melawan pengusaha yang memiliki kekuasaan. Sang raja tidak ingin dijadikan boneka. Kembali aku harus berkata… Seandainya… tetapi aku harus pergi dari kata seandainya karena aku harus hidup di dunia nyata. Pemimpin yang ada saat ini belum sampai seperti itu. Tetapi sebagai salah satu rakyatnya aku berdoa, semoga Allah membukakan hati beliau untuk membuat keputusan yang tepat atas apa yang terjadi di negara saat ini. Tidak hanya sekedar menjamu makan atau senyum ke sana sini tetapi memberikan keputusan yang menenangkan hati.
Rakyat memerlukan ketegasan yang tidak memihak dari pemimpin yang mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Bukan dari seorang pemimpin yang tidak punya pendirian dan hanya bersandar dipunggung orang-orang yang memiliki banyak kepentingan. Rakyat ingin keadilan ditegakkan. Tidak memandang dari mana asalnya dan apa agamanya.
Tulisanku ini adalah isi hati seorang rakyat Indonesia yang ingin negaranya menjadi negara yang memiliki hukum adil. Semua kita tau adil itu bukan sama rata tetapi memiliki porsi yang patut. Hukum harus ditegakkan tanpa memandang siapa yang bersalah tetapi apa kesalahannya. Teriring doaku untuk yang ada di Jakarta melaksanakan aksi, semoga semuanya diberikan Allah kekuatan lahir dan bathin, sehat selalu dan dicintai Allah. Tulisan ini termotivasi saat melihat video santri-santri yang mau berjalan kaki demi menuntut keadilan demi agamanya. Semoga mereka kelak menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Pemimpin yang adil dan bijaksana. Kepada para santri-santri, ambillah yang baik dari pemimpin sekarang tetapi buanglah apa yang tidak patut dicontoh. Aku yakin dengan peristiwa penistaan agama ini Allah benar-benar memperlihatkan kekuasaannya. Semoga seterusnya kita tidak ditinggalkan Allah.
Aku mohon maaf jika ada yang salah dari tulisan ini, karena aku manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan dosa. Semoga Allah mengampuni dosaku jika tulisan ini terdapat kesalahan dan menyakiti hati orang lain. Aku ingin Indonesia menjadi negara yang tegak kokoh di hadapan negara lain dan rakyatnya menjadi penguasa di tanah sendiri.

Sabtu, 26 November 2016

PARENT WITH NO PROPERTY

       Beberapa bulan lalu aku ke Gramedia dan menemukan buku yang menarik. Kenapa menarik? yang pertama aku liat karena covernya berwarna hijau dan merah, itu warna yang sangat indah menurutku. Kedua, judulnya parent with no property, orang tua yang tidak punya properti (ini cara aku mentransletnya ya...). Ketiga, penulisnya bernama Han Hee Seok, dari namanya sudah jelas kalau penulis adalah orang Korea. Keempat, ketika aku membuka buku itu ( aku lupa halaman berapa) cerita di dalamnya sangat menarik cara penulis bercerita begitu saja mengalir. Tidak seperti menggurui. Tetapi menceritakan bagaimana penulis sebagai seorang ayah mendidik anak-anaknya terutama anak pertamanya.



         Aku termasuk yang sering suka nonton drama Korea, dalam drama sering aku lihat bagaimana mereka bercerita tentang kehidupan masyarakat menengah kebawah yang harus berusaha keras untuk bisa menjadi bagian dari chaebol. Ada yang dengan cara culas dan ada yang dengan cara baik-baik. dari sekian banyak drama yang menarik aku sangat tertarik dengan drama yang menceritakan bagaimana anak-anak sekolah dikorea harus berjuang untuk menjadi juara. 
      Drama seperti Queen class room (aduh ini kalau enggak salah judulnya ya...) yang menceritakan bagaimana seorang guru mengajarkan murid-muridnya dengan tegas. Aku lebih suka mengatakan kalau guru itu tegas bukan keras. kalau guru yang keras dia akan keras dalam keadaan baik ataupun buruk tetapi guru yang tegas itu mengajarkan sesuatu dengan tegas ketika dia harus tegas tetapi dilain waktu dia menunjukkan kasih sayangnya walaupun secara tersembunyi. Aku suka kata-kata guru didrama ini "jika kelak kamu bahagia buatlah temanmu juga bahagia" (kira-kira begitulah kata-katanya), kata-kata ini mengingatkan aku yang tidak begitu peduli teman sekolahku dulu bahagia atau tidak. Drama ini juga menceritakan bagaimana sang guru ingin mengatakan pada muridnya bahwa kehidupan nyata itu sama seperti medan perang jadi sedri kecil harus punya bekal untuk berjuang di medan perang yang saling sikut dan saling tendang. 
      Dari drama ini dan beberapa drama tentang perjuangan kehidupan masyarakat Korea bahwa negara Korea Selatan itu sangat kejam. Kenapa aku bilang kejam? karena sepertinya negara itu bilang "pliss, klo miskin jangan tinggal dimari" (gitu kali ya kata-katanya). Tetapi kekejaman itu menurutku lagi, membuat masyarakatnya berjuang untuk menjadi yang terbaik. . 
      Aku juga pernah membaca tentang tingkat kebahagiaan anak di dunia, dan ternyata tingkat kebahagiaan anak Korea Selatan sangat rendah. aku berkesimpulan ini karena anak-anak Korea Selatan sedari kecil sudah harus berjuang dengan pendidikannya. Pagi pergi ke sekolah dan setelahnya pergi ke Akademi (tempat les tambahan). Sebagaimana yang digambarkan didarama-daramanya bahwa para ibu di Korea Selatan akan berjuang semampunya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
      Nah, biasanya yang aku lihat di drama kan para ibu yang kesana kemari untuk pendidikan anak-anaknya tetapi dibuku parent with no property bukan ibunya tetapi ayah. Ya... sang ayah yang pontang panting memikirkan dan berusaha untuk pendidikan anak-anaknya. Bertanya kesana kemari tentang tips belajar. Pergi keseminar masuk ke universitas, padahal waktu itu anaknya belum samapai SMA (Kalau aku enggak salah). Tetapi semua perjuangan sang ayah bisa mendapatkan hasil ketika anak pertamanya, Geol menjadi juara satu dikelas dan satu sekolah. Aku yang jadi pembaca saja deg-degan sewaktu membaca saat-saat mereka melihat hasil ujian Geol. Ah... hatiku lega saat membaca bahwa apa yang diidamkan orang tua itu terwujud dengan tertulisnya juara satu untuk Geol, anak pertamanya. 
      Buku ini juga menceritakan bagaimana keterbatasan keluarga ini yang bukan orang kaya untuk terus berusaha bagaimana anak-anaknya bisa sekolah tanpa ikut akademi. Sebenarnya motivasi sang ayah berjuang, agar anak-anaknya tidak mewarisi kemiskinan orang tuanya dan kenapa dia sangat berusaha untuk anak pertamanya menurutku karena ketika anak pertama berhasil itu akan menjadi contoh bagi adik-adiknya untuk berjuang mendapatkan apa yang didapat kakaknya. Walaupun harus pinjam uang sana sini untuk pendidikan anak-anaknya tetapi kemudian pertolongan datang dari mana saja dengan melihat hasil yang dicapai anak-anak mereka. Memang kalau kita mau berjuang pertolongan itu pasti ada. Sampai diakhir buku diceritakan bahwa Geol bisa mendapatkan beasiswa dari perusahaan besar untuk kuliahnya. Sebuah perjuangan yang luar biasa. Benar-benar Super!! 
      Saya bukan bermaksud mempromokan buku ini tapi saya merekomendasikan untuk membaca buku ini. Ceritanya sangat menarik dan patut disimak. Tetapi sekedar mengingatkan, bahwa mendidik anak jangan dengan cara try and error karena anak bukan barang yang bisa diganti kalau salah asuh. Tetapi kita patut mempelajari bagaimana mendidik anak hanya sebagai bahan untuk referensi bukan sebagai bahan untuk dilaksanakan saat mendidik anak karena setiap anak memiliki karakter masing-masing. Anak kembar saja berbeda karakternya apalagi kalau tidak. Jadi cara mendidik anak pertama dan kedua bisa saja berbeda. Jangan sampai membuat anak stres karena keinginan orang tua yang terlalu memaksa. Ini saja yang bisa aku tulis, semoga bisa bermanfaat.

Selasa, 15 November 2016

Sudah lama aku tidak menulis di blogku ini, alasannya enggak sempat, klise ya. Tapi begitulah tugas rumah menanti dan tugas kuliah menungguku dengan manis untuk diselesaikan. Daripada blog ini tidak terisi, hari ini aku akan mengisinya dengan cerpenku yang ditolak! ha... ha... ha... ditolak kok bangga! tapi begitulah ditolak itu bukan berarti jelek tetapi tolong diperbaiki lagi atau menulislah lagi biar tambah keren tulisannya... halah! sebenarnya kalimat itu untuk menghiburku biar enggak patah semangat. Yah, menulis itu untuk orang-orang yang semangat. Kalau belum-belum sudah letoi karena ditolak ya mending enggak usah nulis ya kan... setuju kan ya... (wajah melas) sudah ah panjang bener pembukaannya, ini nih cerpenku yang ditolak :

EPISODE AKU
Karya : Oli Novedi Santi

“Besok kepada adik-adik semua diharuskan membawa sepasang nyamuk yang diikat dengan tali!” lantang suara perintah di depan membuat kami yang mendengar kaget. Bukan suaranya yang membuat kaget tapi perintah tidak masuk akal itu yang membuat kaget. Apalagi aku. Bingung, juga merasa dibodohi. Ini kegiatan apa sih, pikirku.
Hari ini hari ke tiga aku dan teman-teman mengikuti masa orientasi di kampus. Aku anak baru. Baru di kampus dan baru di kota Padang. Jadi semuanya serba baru. Baru juga merasa bodoh. Aku tidak bisa mengerti dengan kegiatan orientasi ini. Sepertinya tidak ada yang bermanfaat. Mungkin ada sih, tapi sedikit. Lebih banyak acara ngawurnya. Kemarin kami disuruh makan satu permen untuk lima puluh orang, campur cewek dan cowok. Bayangkan saja kalau ada yang terkena penyakit menular berbahaya, apa yang akan terjadi? Mungkin panitia menganggap itu solidaritas, persahabatan. Tapi kan, enggak gitu juga kali… kalau soal penyakit kan yang menderita masing-masing. Mengobatinya juga pakai uang masing-masing. Aku betul-betul jijik. Maunya sih nantang tapi aku di sini kan baru, juga tidak mengerti bagaimana keadaan di  sini. Nanti salah-salah bisa kacau.
Di sebelahku sekarang duduk temanku satu kos. Anak Pekanbaru. Namanya Messi. Messi juga sama denganku. Males banget mengikuti acara ini.
“Mau gimana lagi, kita ikuti ajalah,” itu yang keluar dari mulutnya kemarin saat aku mengeluhkan acara orientasi yang kami jalani.
Hampir magrib ketika aku pulang ke kos. Penat. Lapar. Capek. Ah… pokoknya menderita sekali. Yah… sudahlah istirahat dulu di kamar. Hidup jauh dari orang tua baru kurasakan sekarang. Tapi aku tekadkan saja. Demi cita-cita. Apalagi aku sendiri yang meminta kuliah di kota Padang. Padahal di kota Medan banyak juga universitas yang bagus. Aku hanya ingin mencari suasana baru. Lagi pula di sini katanya tempat belajar agama. Jadi aku memilih kuliah di kota Padang.
Malam ini aku dan Messi membahas bagaimana mendapatkan sepasang nyamuk untuk besok. Sepasang saudara-saudara. Sekali lagi sepasang. Bagaimana mencari sepasang? Akhirnya dengan raket nyamuk kami membasmi nyamuk yang ada di kamar Messi. Kami ambil dua nyamuk dan diikat dengan benang. Susahnya tidak perlu di tanya. Soal sepasang atau tidak kami sudah tidak peduli lagi.
“Sudah Vi, enggak usah dipikirin yang penting kita dapat nyamuknya,” kata Messi.
“Hatiku merasa enggak enak aja. Dengan perintah bodoh ini. Apa mereka enggak punya ide yang lebih mendidik lagi untuk orientasi mahasiswa?”
“Jangan terlalu dibawa ke perasaan yang ada nanti kamu malah sakit hati trus bunuh diri.”
“Jiaah, bunuh diri. Yang ada aku mau menunjukkan sama senior-senior itu kalau aku bisa lebih hebat dari mereka.”
“Betul, kalau mau protes bisa kita lakukan kelak saat kuliah. Lagi pula kita tidak pernah tahu kelak kita jadi apa setelah selesai kuliah. Siapa tahu ternyata besok kamu jadi bos senior-senior kita itu.”
“Amin… mudah-mudahan doa kamu terkabul.”
“Tapi jangan balas dendam ya, enggak baik.” Messi tertawa dengan kata-katanya sendiri. Aku pun ikut tertawa.
Pagi harinya jam enam aku dan Messi sudah sampai di kampus. Tepatnya jam enam pagi kurang lima menit. Kemarin jam enam lewat dua menit kami sampai, mendapat hukuman dari panitia karena terlambat. Ternyata di depan kampus sudah banyak mahasiswa baru yang hadir. Dan anehnya semuanya sedang lompat kodok. Dihukum!
“Ayo… yang baru datang bergabung. Lompat kodok sepuluh kali,” terdengar perintah salah satu panitia orientasi. Aku jadi bingung, salah kami apa?
“Bang, kenapa kami dihukum?” akhirnya salah satu dari mahasiswa baru memberanikan diri bertanya.
“Kenapa tanya?” jawab salah satu panitia.
“Yah, kan harus jelas sebab kami dihukum.” Jawab mahasiswa baru itu. Sepertinya anak dari jurusan manajemen karena atributnya sama denganku.
“Kalian tidak mematuhi jam.”
“Kami kan datangnya jam enam kurang, kenapa masih dihukum?” kataku akhirnya memberanikan diri.
“Apa pasal yang sudah kami katakan pada pertemuan pertama kita. Ucapkan sama-sama!” Lantang sekali suara panitia.
Yah… itu lagi deh. Dengan malas aku mengucapkannya bersama teman-teman.
“Pasal satu, senior tidak pernah salah. Pasal dua, jika senior salah kembali ke pasal satu.”
“Nah, sudah tahu aturannya kan?” panitia senyum-senyum melihat kami. Ada juga yang tertawa. Hatiku sebal bin kesal. Memangnya ada aturan yang seperti itu? Akal-akalan mereka saja.
“Hari ini, adalah hari terakhir kita bersama dalam acara orientasi. Siang nanti kalian akan mendapatkan buku suci yang sangat penting untuk bisa menjalankan perkuliahan di kampus ini. Jadi tetaplah semangat.” Walau begitu semangatnya senior di depanku bicara tak sedikit pun membuatku semangat. Aku jengah.
Sampai siang hari aku masih kesal. Sudah susah-susah mencari nyamuk ternyata tidak ada pembicaraan mengenai nyamuk. Yang ada malah sebagian senior laki-laki mencari mangsa alias mahasiswi yang cantik-cantik untuk mengambil setoran. Bukan uang sih setorannya. Tapi sama saja malak. Lha, yang diminta coklat toblerone atau silverqueen. Bukan cuma satu tapi bisa dua atau tiga.  Menyebalkan!
“Siang ini kami akan membagikan buku suci. Semuanya harus mengelilingi ruangan ini dengan merangkak.”
What? Merangkak? Apalagi ini? untuk mendapatkan Al Quran, kitab yang benar-benar suci saja tidak perlu merangkak. Sesuci apa sih bukunya? Aku hanya bisa bertanya dalam hati. Yang lebih anehnya mengambilnya harus dari bawah kaki seorang senior perempuan yang duduk di salah satu kursi kemudian kakinya berada di kursi di depannya. Ini apa sih? Tapi lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Aku lihat wajah seniorku itu. Jijik. Asli. Tega-teganya dia menghinakan kami dengan seperti itu.
“Tunduk!” sebuah tangan mampir di kepalaku. Membuatku kaget. Tapi tak berdaya. Namun itu membuatku mengingat wajah senior perempuan itu. Masih dengan perasaan jijik.
Hari sudah sore ketika semua kami di bariskan di depan kampus untuk penutupan acara.
“Semua yang kami lakukan demi kepentingan adik-adik semua. Jangan ada dendam diantara kita. Mari kita bernyanyi,” Suara riuh langsung terdengar. Mereka bergoyang dan bernyanyi bersama. Aku memilih menghindar. Perutku mual. Apalagi setelah membaca buku yang katanya suci. Buku yang berisi peraturan-peraturan perkuliahan. Hah! Karena buku tipis ini aku harus menghinakan diriku. Mungkin sebagian orang bilang itu hanya untuk bersenang-senang. Tapi tidak bagiku. Itu menyangkut harkat dan martabat manusia. Tidak bisa dianggap enteng. Ah… yang penting acara ini sudah selesai. Minggu depan mulai awal perkuliahan.
‘***
“Kak, ini CV karyawan barunya,” Lili salah satu stafku memberikan beberapa map.
Aku membuka satu persatu dan membacanya. Sebuah perusahaan jasa yang baru tiga tahun ini aku dirikan bersama suamiku memang membutuhkan karyawan baru. Tiba-tiba tanganku berhenti pada salah satu CV. Aku melihat fotonya dengan seksama. Wajah itu tidak akan pernah bisa kulupakan. Wajah yang membuatku ingin muntah. Ah… kenapa perasaan ini masih ada padahal itu beberapa tahun lalu. Yah, itu wajah seniorku dulu. Senior yang kakinya harus aku lewati untuk mengambil buku suci ketika masa orientasi.
Aku jadi ingat doa Messi. Memang benar bahwa kita tidak pernah tahu kehidupan kita kelak. Jadi jangan sampai merendahkan orang lain walau itu sebuah gurauan dan jangan ketika punya kekuasaan, merasa ‘di atas’ terus semena-mena pada orang lain. Semua kita punya batas. Teringat nasihat ayahku ketika aku akan pergi merantau dulu.
“Jika kita berbuat baik kepada orang lain, mungkin tidak segera kita dapatkan balasannya tetapi yakinlah suatu hari akan kita rasakan manfaatnya. Kalaupun bukan untuk kita mungkin untuk anak atau cucu-cucu kita,” nasehat itulah yang selalu aku ingat.
“Kak, bagaimana?” suara Lili mengagetkanku.
Apakah seniorku ini aku singkirkan atau… ah aku harus beri kesempatan untuknya. Menurutku setiap orang butuh kesempatan untuk bisa melangkah. Seperti kata Messi, aku tidak boleh dendam.

Senin, 29 Agustus 2016

KELUH KESAH EMAK-EMAK

Dini hari ini aku terbangun, kepala pusing, batuk kering dan perut sakit sedang melanda. (penyakitan ya...) Tapi begitulah adanya. Jam bangun tidurku seperti jadawal BAB yang siklusnya kadang terulang. Jadi kalau aku bangun jam 3 pagi maka kesokannya aku akan bangun jam 3 pagi sampai suklus itu aku rubah maka berubahlah jam bangun tidurku. Dan yang paling kadang menjengkelkan aku suka bermimpi tentang kejadian yang sedang membuatku gundah. misalnya tugas kuliah yang belum selesai, batukku yang mengganggu orang dan pristiwa-pristiwa lain yang membuatku gundah. Apalagi sekarang aku jauh dari anak-anak dan suami jadi bawaan perasaan enggak enak melulu.
Terkadang ada pertanyaan dalam hati, benarkah keputusan aku untuk kuliah lagi? tapi jawabannya ya ini demi aku, suamiku dan anak-anakku karena dengan aku kuliah maka kalaupun dikerjaan aku tidak dapat jabatan setidaknya pangkatku tidak mentok. Aku enggak mau muluk-muluk soal niat kuliahku. Menambah ilmu iya tapi dibalik itu sebenarnya intinya aku tidak ingin pangkatku berhenti karena keterbatan pendidikanku. apalagi aku masih tergolong muda. daripada setelah tua menyesal itu tidak berguna. Satu lagi juga yang terpenting aku kuliah juga suamiku memberi dukungan penuh.

Rabu, 08 Juni 2016

RUMAH DINAS


Kata orang aku ini cahkeb alias cah kebon. Walau lahirnya di rumah sakit, tetap saja rumah sakitnya milik perkebunan. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Makanya jangan heran jika mendengar aku dipanggil kakak oleh setiap orang di Afdeling dimana aku dan keluargaku tinggal.
Setiap perkebunan punya beberapa Afdeling dan aku  tinggal di Afdeling IV Pondok Baru perkebunan Gunung Para. Tinggal di perkebunan sudah tentu kami tinggal di rumah dinas milik perkebunan. Beruntungnya kami, rumah kami memiliki kamar mandi. Tidak seperti beberapa rumah dinas yang lain, kamar mandinya harus membuat sendiri. Kalau aku bilang sih kamar mandi mereka bukan kamar mandi karena terdiri dari kayu yang dipancang ke tanah kemudian ada yang memakai terpal untuk dindingnya dan ada juga yang memakai karung plastik. Miris ya… yah begitulah hidup diperkebunan.
Cerita tentang rumah dinas perkebunan kami masih banyak. (Jangan bosan bacanya ya…). Rumah kami permanen. Tetapi aku tidak habis pikir dengan bentuk rumah kami. Kami selalu bertanya-tanya tentang siapa arsitek rumah itu. Jendela di belakang kalau yang sebelah kanannya dibuka akan menutupi pintu dapur di sebelahnya. Bisa dibayangkan kan? Karena itulah jendela sebelah kanan di belakang tidak pernah kami buka. Selain itu, pintu kamar mandinya di luar. Jadi jika kita ingin ke kamar mandi harus keluar dulu dan itu adanya di ujung rumah. Sudah terbayangkan? Begitulah rumah kami. Pertanyaan kami selalu saja, kenapa tidak di dalam saja pintu kamar mandi padahal dinding kamar mandi itu luas tidak ada penghalang apa pun untuk membuat pintu di sana.
“Itu dibuat agar kita turut menjaga keamanan perkebunan ini. Dengan adanya pintu di luar jadi jika kita ingin buang air pada malam hari kan kita bisa memantau apa yang terjadi di luar,” itulah jawaban diplomatis papa.
Jangan kira bentuk semua rumah sama. Tidak. Rumah itu bentuknya berbeda-beda. Seperti yang kubilang tadi rumah dinas itu ada yang tidak punya kamar mandi tetapi di dalamnya ada seperti tungku untuk memasak.
“Mereka tidak pernah memakainya karena akan membuat hitam rumah,” ini kata mamaku yang sering pergi ke rumah tetangga jika mereka ada yang sakit.
Tapi ada yang bagusnya dari rumah dinas itu. Masing-masing rumah di sampingnya memiliki halaman untuk bercocok tanam.
Disini aku akan menceritakan suka dan tidak sukanya tinggal di perkebunan. Tapi ini terjadinya saat aku SD karena saat aku disekolah lanjutan akan kuceritakan kelak. Aku punya beberapa cerita. Yang akan terus kuingat sampai aku tua. Terutama tentang aku dan apa yang terjadi di Afdeling. Tempat dimana sebagian umurku habis di sana. Sebuah Afdeling yang cukup jauh dari jalan besar atau jalan lintas. Jika naik sepeda jaraknya kira-kira satu jam. Naik kereta kurang lebih setengah jam. Naik motor kira-kira satu jam. Kenapa naik motor sama dengan naik sepeda? Jawabannya adalah jika naik sepeda kita bisa menggunakan jalan setapak melewati pohon-pohon karet sedangkan naik motor kita harus dari jalan perkebunan yang buruknya kelewatan. Berbatu dan tidak mulus. Jadi supirnya harus pandai-pandai memilih jalan yang harus dilalui.
Aku juga belum bercerita bahwa rumahku itu bisa ditemukan kalau dari siantar akan terlihat pos polisi di sebelah kanan menghadap sebuah jalan perkebunan. Jika dari tebing tinggi berarti pos polisinya sebelah kiri sementara jalan menuju rumahku disebelah kanan. Jalan yang sampai kini masih seperti saat aku SD.
Mungkin ini sedikit pembukaan ceritaku tentang suka dan tidak sukanya aku tinggal di perkebunan. Tempat dimana aku banyak memiliki kenangan. Sampai sekarang pun kenangan itu tak bisa lekang dari ingatanku. Tak pernah aku menyesal tinggal di sana karena aku selalu berprinsip, walaupun anak kampung yang penting tidak kampungan. Aku dan adik-adikku tetap berteman dengan anak-anak di afdeling tetapi kami tidak selalu mengikuti gaya mereka. Sampai sekarang aku masih ingat temanku satu kelas ketika di SD, jangankan punya tali pinggang celana sekolahnya malah harus dipasang karet gelang atau tali plastik agar erat. Belum lagi sepatu yang mereka pakai rata-rata memakai sepatu toyo yang bahannya dari plastik. Kalau tas masih ada yang membawa plastik kresek ke sekolah karena itu penampilanku dan adikku yang sedikit lebih agak menonjol dibanding mereka. Hanya saja kami sudah diajarkan untuk tidak sombong agar bisa berbaur dengan mereka. Bagiku pun tak ada kata sombong justru mereka senang berteman.
Ada satu lagi yang aku ingat saat aku kecil. Mereka jarang sekali pergi ke kota. Seperti ke Tebing Tinggi. Bagi mereka itu sebuah kemewahan makanya kehidupan mereka begitu kampungan. Mereka seperti katak dalam tempurung. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka memilih membeli di kedai-kedai kecil milik tetangga depan rumahku. Kalau untuk pakaian mereka akan menunggu bonusan yang ini nanti aku ceritakan lebih lanjut. Dan kalau untuk perlengkapan rumah tangga mereka akan dengan senang hati kredit dengan sales-sales toko yang sering datang. Aku bilang kehidupan mereka sangat suram. Walaupun mereka tetap saja tertawa gembira. bagiku mereka benar-benar suram.
Soal penerangan di Afdeling kami… ah sebaiknya nanti saja aku ceritakan. Miris. Tak bisa dikatakan dengan kata-kata. Aku teringat bagaimana air mata mama jatuh berurai saat kami baru pindah ke Afdeling ini. Sebelumnya kami tinggal di rumah dinas juga hanya saja masih lebih bagus. Rumah dinas itu adanya di komplek perumahan perkebunan bagi pegawai yang bekerja di kantor direksi. Namun entah karena apa aku tak tahu, mamaku dipindahkan ke Afdeling dimana kami tinggal sekarang.
“Ini masih lebih baik, karena tidak terlalu jauh,” kata papa menghibur mama.
Memang kalau dibandingkan dengan teman mama yang lain mama termasuk yang paling dekat pindahnya. Sejak pindah, kami tidak punya pembantu lagi. Mama harus mengerjakan semuanya dibantu oleh papa dan kami. Sungguh berat buat mama. Belum lagi dari keluarga mama yang sangat menyayangkan mama harus pindah ke tempat yang terpencil. Tapi dengan tekat yang kuat mama menguatkan hati dan bertahan. Apalagi orang-orang perkebunan itu membutuhkan mama.
Kalau soal beras, kami biasa makan beras catu dari bulog. Dibilang beras catu karena beras catuan. Setiap hari kamis minggu ke dua akan ada berasan di pajak depan rumahku. Kadang kami dapat beras thailand lain hari dapat beras vietnam. Kadang dapat beras yang putih bersih lain kali dapatnya beras jelek dan bau. Tapi bagaimanapun aku dan adik-adikku tidak pernah mengeluh. Soal ini nanti juga akan kuceritakan.
“Yang penting kita bersyukur, masih banyak orang yang tidak bisa makan nasi,” petuah papa suatu hari. Kemudian papa akan menceritakan kepada kami kesusahan papa dimasa muda papa untuk mencari sesuap nasi. 
Cerita suka duka tinggal di rumah dinas mama dan papaku masih banyak lagi. Ok... to be continued ya… 

Note : 
  1. Kereta     : Sepeda Motor
  2. Motor      : Mobil
  3. Bonusan   : Saat perkebunan memberikan bonus untuk karyawan
  4. Berasan    : Pembagian beras
  5. Pajak        : Tempat pertemuan, jika bonusan biasanya ada orang yang datang untuk berjualan di sana dan jika ada layar tancap letaknya juga di sana.